Powered By Blogger

Senin, 06 Februari 2012

askep GERONTIK ISK

 BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Infeksi saluran kencing (ISK) merupakan salah satu jenis infeksi yang paling sering ditemukan dalam praktik klinik. Lebih dari 25% perempuan akan mengalami paling tidak satu kejadian ISK selama masa kehidupanya. Kebanyakan kasus ISK tidak menimbulkan masalah yang berat, dalam artian tidak mengancam nyawa dan tidak menimbulkan suatu kerusakan yang bersifat irreversible. Namun demikian, resiko kerusakan ginjal yang irreversible dan juga peningkatan resiko bakterimia akan terjadi ketika ISK mengenai ginjal (Hvidberg et al., 2000).
Infeksi saluran kencing (ISK) merupakan penyakit yang perlu mendapat perhatian serius. Di Amerika dilaporkan bahwa setidaknya terdapat 6 juta pasien ISK setiap tahunya. Di RS X di Yogyakarta ISK merupakan penyakit infeksi urutan ke-2 dan masuk dalam 10 besar penyakit(juli-desember).
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Prevalensi ISK di masyarakat makin meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Pada usia 40-60 tahun mempunyai angka prevalensi 3,2 %, sedangkan pada usia sama atau di atas 65 tahun kira-kira mempunyai angka prevalensi ISK sebesar 20 %. Infeksi saluran kemih dapat mengenal baik laki-laki maupun wanita dari semua umur, baik anak-anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia. Akan tetapi dari kedua jenis kelamin, ternyata wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umum, kurang lebih 5-15%.
"Dari penderita ISK, menurut penelitian, kira-kira ada sekitar 10 persen yang tidak bergejala. Dalam hal ini penderita tidak merasakan apa-apa. Mungkin gejalanya ada tetapi si orang tersebut menganggapnya sebagai gejala biasa. Untuk yang tak bergejala ini baru diketahui setelah diperiksa melalui tes urin dimana urinnya banyak terdapat bakteri," terang Sugi.
ISK yang tak bergejala terhitung lebih berbahaya, karena tanpa disadari, penyakit tersebut akan menggerogoti terus-menerus. Jadi, orang yang bersangkutan terinfeksi tetapi dia tidak tahu dan biasanya malah menjadikronis.
Untuk menyatakan adanya ISK harus ditemukan bakteri dalam urin. Bakteriuria yang disertai dengan gejala pada saluran kemih disebut bakteriuria simptomatis. Sedangkan yang tanpa gejala disebut bakteriuria asimptomatis.

B.    Rumusan Masalah
1.    Apakah yang disebut dengan infeksi saluran kemih?
2.    Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya infeksi saluran kemih?
3.    Bagaimana patofisiologi infeksi saluran kemih?
4.    Bagaimana penatalaksanaan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Infeksi Saluran Kencing?

C.    Tujuan Penelitian

1.    Untuk mengetahui Definisi infeksi saluran kemih.
2.    Untuk mengetahui etiologi dari infeksi saluran kemih
3.    Untuk mengetahui patofisiologi infeksi saluran kemih
4.    Untuk mengetahui penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien
    infeksi saluran kencing



BAB I
KONSEP MEDIS

A.    Definisi
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Prevalensi ISK di masyarakat makin meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Pada usia 40-60 tahun mempunyai angka prevalensi 3,2 %, sedangkan pada usia sama atau di atas 65 tahun kira-kira mempunyai angka prevalensi ISK sebesar 20 %. Infeksi saluran kemih dapat mengenal baik laki-laki maupun wanita dari semua umur, baik anak-anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia. Akan tetapi dari kedua jenis kelamin, ternyata wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umum, kurang lebih 5-15%.
Untuk menyatakan adanya ISK harus ditemukan bakteri dalam urin. Bakteriuria yang disertai dengan gejala pada saluran kemih disebut bakteriuria simptomatis. Sedangkan yang tanpa gejala disebut bakteriuria asimptomatis. Dikatakan bakteriuria positif pada pasien asimptomatis bila terdapat lebih dari 105 koloni bakteri dalam sampel urin midstream, sedangkan pada pasien simptomatis bisa terdapat jumlah koloni lebih rendah.
Prevalensi ISK yang tinggi pada usia lanjut antara lain disebabkan karena:
o    Sisa urin dalam kandung kemih meningkat akibat pengosongan kandung kemih kurang efektif.
o    Mobilitas menurun.
o    Pada usia lanjut nutrisi sering kurang baik.
o    Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral.
o    Adanya hambatan pada aliran urin.
o    Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat.


Infeksi saluran kemih dapat mengenai baik laki-laki maupun perempuan dari semua umur baik pada anak-anak remaja, dewasa maupun pada umur lanjut. Akan tetapi, dari dua jenis kelamin ternyata wanita lebih sering dari pria
Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang disebabkan oleh bakteri terutama scherichia coli ; resiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluks vesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemihan, pemakaian instrumen uretral baru, septikemia. (Susan Martin Tucker, dkk, 1998) Infeksi traktus urinarius pada pria merupakan akibat dari menyebarnya infeksi yang berasal dari uretra seperti juga pada wanita. Namun demikian, panjang uretra dan jauhnya jarak antara uretra dari rektum pada pria dan adanya bakterisidal dalam cairan prostatik melindungi pria dari infeksi traktus urinarius. Akibatnya UTI paa pria jarang terjadi, namun ketika gangguan ini terjadi kali ini menunjukkan adanya abnormalitas fungsi dan struktur dari traktus urinarius.

B.    Etiologi
ISK pada usia lanjut dipandang dari segi penatalaksanaan sering dibedakan atas: (Russel, B.M., 1989; Tolkoff, Rubu N.E. dan Rubin R.H., 1989).

a.ISK uncomplicated (simple)
ISK yang sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing baik anatomi maupun fungsionil normal. ISK sederhana ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superfisial kandung kemih. Penyebab kuman tersering (90%) adalah E. coli.



b.ISK complicated
Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotik, sering terjadi bakteriemia, sepsis, dan syok. Penyebab kuman pada ISK complicated adalah Pseudomonas, Proteus, dan Klebsiela. ISK complicated terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagai berikut: Kelainan abnormal saluran kemih, misalnya batu (pada usia lanjut kemungkinan terjadinya batu lebih besar dari pada usia muda). Refleks vesiko urethral obstruksi, paraplegi, atoni kandung kemih, kateter kandung kemih menetap, serta prostatitis menahun.Kelainan faal ginjal, baik gagal ginjal akut (GGA) maupun gagal ginjal kronis (GGK)
.Bermacam-macam mikroorganisme dapat menyebabkan ISK. Mikroorganisme yang paling sering adalah bakteri aerob. Saluran kemih normal tidak dihuni oleh bakteri atau mikroba lain, karena itu urin dalam ginjal dan buli-buli biasanya steril. Walaupun demikian uretra bagian bawah terutama pada wanita dapat dihuni oleh bakteri yang jumlahnya makin kurang pada bagian yang mendekati kandung kemih. Selain bakteri aerob, ISK juga dapat disebabkan oleh virus, ragi, dan jamur.
Penyebab terbanyak adalah Gram-negatif termasuk bakteri yang biasanya menghuni usus yang kemudian naik ke sistem saluran kemih. Dari Gram-negatif ternyata E.Coli menduduki tempat teratas, yang kemudian diikuti oleh Proteus, Klebsiela, Enterobacter, dan Pseudomonas.
Jenis kokus Gram-positif lebih jarang sebagai penyebab ISK sedangkan entercoccus dan Staphylococcus aureus sering ditemukan pada pasien dengan batu saluran kemih, lelaki usia lanjut dengan hipertrofi prostat atau pada pasien yang menggunakan kateter. Bila ditemukan Staphylococcus aureus dalam urin harus dicurigai adanya infeksi hematogen melalui ginjal. Demikian juga Pseudomonas aeroginosa dapat menginfeksi saluran kemih melalui jalur hematogen dan pada kira-kira 25% pasien demam tifoid dapat diisolasi Salmonella pada urin. Bakteri lain yang dapat menyebabkan ISK melalui jalur hematogen ialah Brusella, Nokardia, Actinomyces dan Mycobacterium tuberculosae.
Virus juga sering ditemukan pada urin tanpa ada gejala ISK akut. Adenovirus tipe 11 dan 12 diduga sebagai penyebab sistitis hemoragik. Sisititis hemoragik dapat juga disebabkan oleh Schistosoma hematobium yang termasuk golongan cacing pipih. Candida merupakan jamur yang paling sering menyebabkan ISK terutama pada pasien dengan kateter, pasien DM atau yang mendapat pengobatan dengan antibiotik spektrum luas. Candida yang paling sering ialah Candida albicans dan Candida tropicalis. Semua jamur sistemik dapat menulari saluran kemih secara hematogen

Penyebab yang lain dapat terjadi ialah :
1.    Bakteri (Eschericia coli)
2.    Jamur dan virus
3.    Infeksi ginjal
4.    Prostat hipertropi (urine sisa)
5.    Dapat berasal dari organisme pd faeces yang naik dari perineum uretra
      dan kandung kemih, serta menempel pd permukaan mucosa.
6.    pengosongan kandung  kemih yang tdk lengkap
7.    Gangguan status metabolis (diabetes)
8.    Refluks uretrovesikel ® refluks (aliran balik) urine dari uretra ke dlm
      kandung kemih.
9.    Refluks uretrovesikel ®dpt disebabkan o/ disfungsi leher kandung kemih
      uretra.
      Uretrovesikel atau refluks uretrovesikel ® aliran balik urin dari kandung
      kemih ke dlm kedua ureter.
10.    Kontaminasi fekal
11.    Hubungan seksual ® berperan masuknya organisme dari perineum kedlm
      kandung kemih
12.    Pemasangan alat kedlm traktus urinarius
13.    statis urine
C.    Patofisiologi
Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada dua jalur utama terjadinya ISK, asending dan hematogen. Secara asending yaitu:
o    masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih, antara lain: factor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, factor tekanan urine saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi.
o    Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal Secara hematogen yaitu: sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan parut, dan lain-lain.
Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensii yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar ke suluruh traktus urinarius. Selain itu, beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK, antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang menakibtakan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah: jaringan parut ginjal, batu, neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun.
D. Tanda dan Gejala
Gejala klinis ISK tidak khas dan bahkan pada sebagian pasien tanpa gejala. Gejala yang sering ditemukan ialah disuria, polakisuria, dan terdesak kencing yang biasanya terjadi bersamaan. Nyeri suprapubik dan daerah pelvis juga ditemukan. Polakisuria terjadi akibat kandung kemih tidak dapat menampung urin lebih dari 500 ml karena mukosa yang meradang sehingga sering kencing. Stranguria, tenesmus, nokturia, sering juga ditemukan enuresis nokturnal sekunder, prostatismus, nyeri uretra, kolik ureter dan ginjal. Gejala klinis ISK sesuai dengan bagian saluran kemih yang terinfeksi sebagai berikut
Pada ISK bagian bawah, keluhan pasien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di uretra sewaktu kencing dengan air kemih sedikit-sedikit serta rasa tidak enak di daerah suprapubik.
Pada ISK bagian atas dapat ditemukan gejala sakit kepala, malaise, mual, muntah, demam, menggigil, rasa tidak enak, atau nyeri di pinggang.
ISK yang tak bergejala terhitung lebih berbahaya, karena tanpa disadari, penyakit tersebut akan menggerogoti terus-menerus. Jadi, orang yang bersangkutan terinfeksi tetapi dia tidak tahu dan biasanya malah menjadi kronis.
1.    Uretritis biasanya memperlihatkan gejala :
-    Mukosa memerah dan oedema
-    Terdapat cairan eksudat yang purulent
-    Ada ulserasi pada urethra
-    Adanya rasa gatal yang menggelitik
-    Adanya nanah awal miksi
-    Nyeri pada saat miksi
-    Kesulitan untuk memulai miksi
-    Nyeri pada abdomen bagian bawah.
2.    Sistitis biasanya memperlihatkan gejala :
-    Disuria (nyeri waktu berkemih)
-    Peningkatan frekuensi berkemih
-    Perasaan ingin berkemih
-    Adanya sel-sel darah putih dalam urin
-    Nyeri punggung bawah atau suprapubic
-    Demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah.
3.    Pielonefritis akut biasanya memperihatkan gejala :
-    Demam
-    Menggigil
-    Nyeri pinggang
-    Disuria
4.    Pielonefritis kronik mungkin memperlihatkan gambaran mirip dengan pielonefritis akut, tetapi dapat juga menimbulkan hipertensi dan akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal.
E.    Komplikasi
1.    Pembentukan Abses ginjal atau perirenal.
2.     Gagal ginjal
F.    Pemeriksaan diagnostik
    Urinalisis
    Leukosuria atau piuria terdapat > 5 /lpb sedimen air kemih.
    Hematuria 5 – 10 eritrosit/lpb sedimen air kemih.


    Bakteroilogis
    Mikroskopis
    Dapat digunakan urin segar tanpa dipoutar atau tanpa pewarnaan gram. Dinyatakan positif apabila dijumpai bakteri/lapang pandang minyak emersi.
    Biakan bakteri
    Tes kimiawi
Yang paling sering dipakai ialah tes reduksi griess nitrate. Dasarnya adalah sebagian besar mikroba kecuali enterokoki, mereduksi nitrat bila dijumpai lebih dari 100.000 – 1000.000 bakteri. Konversi ini dapat dijumpai dengan perubahan warna pada uji tarik. Sensitivitas 90,7 % dan spesifisitas 99,1 % untuk mendeteksi Gram-negatif. Hasil palsu terjadi bila pasien sebelumnya diet rendah nitrat, diuresis banyak,infeksi oleh enterokoki dan asinetobakter.

    Pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan lainnya
Pemeriksaan radiologis dimaksudkan untuk mengetahui adanya batu atau kelainan yang merupakan anatomis yang merupakan faktor predisposisi ISK. Dapat berupa pielografi intravena (IVP), ultrasonografi dan CT-scanning.

G.    Pencegahan

Ada beberapa upaya yang dapat anda lakukan untuk mencegah infeksi saluran kemih ini, antara lain :
-    Munumlah banyak cairan (dianjurkan untuk minum minimal 8 gelas air putih sehari).
-    Segera buang air kecil sebelum dan sesudah melakukan hubungan seksual.
-    Jika membersihkan kotoran, bersihkan dari arah depan ke belakang, agar kotoran dari dubur tidak masuk ke salam saluran kemih.
-    Periksa air seni secara rutin selama kehamilan. Dengan pemeriksaan tersebut akan dapat segera diketahui apakah anda terinfeksi atau tidak
-    Jangan terlalu lama menahan keinginan buang air kecil
-    Perempuan lebih rentan terinfeksi saluran kemih.

H.     Pengobatan penyakit ISK
1.    Terapi antibiotik untuk membunuh bakteri gram positif maupun gram
         negatif.
a.    Amoxicillin 20-40 mg/kg/hari dalam 3 dosis.
b.    Co-trimoxazole atau trimethoprim 6-12 mg trimethoprim/kg/hari dalam 2 dosis.
c.    Cephalosporin seperti cefixime atau cephalexin.
d.    Co-amoxiclav digunakan pada ISK dengan bakteri yang resisten terhadap cotrimoxazole.
e.    Obat-obatan seperti asam nalidiksat atau nitrofurantoin tidak digunakan pada anak-anak  yang dikhawatirkan mengalami keterlibatan ginjal pada ISK.
2.    Apabila pielonefritis kroniknya disebabkan oleh obstruksi atau refluks, maka diperlukan penatalaksanaan spesifik untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
3.    Dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas microorganisme yang mungkin naik ke uretra, untuk wanita harus membilas dari depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi lubang urethra oleh bakteri faeces.
.

BAB II
KONSEP KEPERAWATAN
A.    Pengkajian
    Aktivitas/Istirahat
    Gejala : sukar tidur
    Tanda : palpebra hitam,
    Eliminasi
    Gejala : Perubahan pola berkemih biasanya , peningkatan frekuensi, poliuria, oliguria, Disuria, ragu-ragu, dan retensi Abdomen kembung
    Tanda : Perubahan warna urine
    Makanan/Cairan
    Gejala : Peningkatan BB (edema), penurunan BB, (dehidrasi)
    Tanda : Edema bagian pelvis
    Nyeri/Kenyamanan
    Gejala : Nyeri,  hipertermi
    Tanda : Gelisah     
    Neurosensori
    Gejala : Keram otot/kejang 

B.    Diagnosa

1.    Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain.
2.    Ganguan pola eliminasi berhubungan dengan nyeri ketika miksi ( dysuria )
3.    Hipertermi berhubugan dengan pelepasan toksin oleh bakteri
4.    Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya aktivasi sistem RAS
5.    Ansietas berhubungan dengan stress psikologis
6.    Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah

C.    Intervensi

NO            Diagnosa                Intervensi              Rasional
1.    Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain

Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa
nyaman dan nyerinya berkurang.
Kriteria Hasil :
1.    Pasien mengatakan / tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih.
2.    Kandung kemih tidak tegang
3.    Pasien nampak tenang
4.    Ekspresi wajah tenang
        Pantau haluaran urine terhadap perubahan warna, baud an pola berkemih, masukan dan haluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang
    Catat lokasi, lamanya intensitas skala (1-10) penyebaran nyeri.
    Berikan tindakan nyaman, seprti pijatan punggung, lingkungan istirahat
    Bantu atau dorong penggunaan nafas berfokus

    Berikan perawatan perineal
    Jika dipaang kateter indwelling, berikan perawatan kateter 2 nkali per hari.


Kolaborasi
    Konsul dokter bila: sebelumnya kuning gading-urine kuning, jingga gelap, berkabut atau keruh. Pla berkemih berubah, sring berkemih dengan jumlah sedikit, perasaan ingin kencing, menetes setelah berkemih. Nyeri menetap atau bertambah sakit
    Berikan analgesic sesuia kebutuhan dan evaluasi keberhasilannya
    Berikan antibiotic. Buat berbagai variasi sediaan minum, termasuk air segar . Pemberian air sampai 2400 ml/hari


        untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan




    membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan penyebab nyeri
    meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot.

    membantu mengarahkan kembali perhatian dan untuk relaksasi otot.
    untuk mencegah kontaminasi uretra
    Kateter memberikan jalan bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan


    Temuan- temuan ini dapat memeberi tanda kerusakan jaringan lanjut dan perlu pemeriksaan luas










    analgesic memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri

    akibat dari haluaran urin memudahkan berkemih sering dan membentu membilas saluran berkemih




2.    Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius  lain

Kriteria hasil :Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi, oliguri, disuria)


        Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristi urin
    Dorong meningkatkan pemasukan cairan
    Kaji keluhan kandung kemih penuh




    status mental:, perilaku atau tingkat kesadaran



    Kecuali dikontraindikasikan: ubah posisi pasien setiap dua jam
Kolaborasi
    Awasi pemeriksaan laboratorium; elektrolit, BUN, kreatinin



        memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi
    peningkatan hidrasi membilas bakteri.

    retensi urin dapat terjadi menyebabkan distensi jaringan(kandung kemih/ginjal)Observasi perubahan
    akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi toksik pada susunan saraf pusat

    untuk mencegah statis urin



    pengawasan terhadap disfungsi ginjal

5.    Ansietas berhubungan dengan stress psikologis

Tujuan :  pasien akan mengalami penurunan rasa ketakutan dan ansietas.dengan criteria klien tidak gelisa


















        Kaji tingkat kecemasan

    Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya

    Beri dorongan spiritual




    Beri penjelasan tentang penyakitnya

        Untuk mengetahui berat ringannya kecemasan klien

    Agar klien mempunyai semangat dan mau empati terhadap perawatan dan pengobatan


     Agar klien kembali menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan YME.Beri support pada klien

    Agar klien mengerti sepenuhnya tentang penyakit yang dialaminya


4.    Gangguan pola tidur berhubungan dengan aktifasi RAS (reticuloendotelia avtifing system) ditandai dengan
Tujuan dan kriteri hasil :
Melaporkan perbaikan dalam pola tidur/istrahat
Mengungkapkan perasaan segar dan nyaman dalam istrahat.
         Tentukan kebiasaan tidur biasanya dan perubahan yang terjadi.
    Berikan tempat tidur yang  nyaman.


    Kurangi kebisingan.



    Dorong posisi nyaman , bantu dalam mengubah posisi.


    Tingkatkan regimen kenyamanan waktu tidur mis; masase, segelas susu air hangat.


        mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat


    meningkatkan kenyamanan tidur serta dukungan fisiologis/psikologis.

    memberikan situasi kondusif saat tidur



    pengubahan posisi mengubah area tekanan dan meningkatkan istrahat.

    meningkatkan efe relaksasi. Susu mempunyai kualitas soporifik, meningkatan sintesis serotonin, neurotransmitter yang membantu pasien tertidur dan tidur lebih lama.
3.    Hipertermi berhubugan dengan pelepasan toksin oleh bakteri
Tujuan :
Suhu tubuh da-lam batas nor-mal dengan kriteria :
Suhu : 360 – 37 0 C
Bibir tidak pecah-pecah.
   
    Observasi tan-da-tanda vital.

    Beri kompres dingin pada daerah dahi dan ketiak.



    Anjurkan klien untuk minum banyak





    Anjurkan pada klin untuk isti-rahat total.







   
    Tanda-tanda vital dapat berubah dengan adanya peningkatan suhu tubuh.
    Dengan memberi kompres dingin terjadi pemin-dahan panas ke dingin melalui proses konduksi.
    Dengan minum yang banyak di-harapkan dapat mengganti peng-uapan cairan yang keluar aki-bat panas.
    Istirahat mutlak dapat mencegah terjadinya perfo-rasi usus.


6.    Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak memperlihatkan tanda-tanda
gelisah.
Kriteria Hasil :
Klien tidak gelisah
Klien tenang
        Kaji tingkat pemahaman klien tentang penyakitnya
    Kaji ulang proses pemyakit dan harapan yang akan datanng


    Berikan informasi tentang: sumber infeksi, tindakan untuk mencegah penyebaran, jelaskna pemberian antibiotic, pemeriksaan diagnostic: tujuan, gambaran singkat, persiapan ynag dibutuhkan sebelum pemeriksaan, perawatan sesudah pemeriksaan
    Pastikan pasien atau orang terdekat telah menulis perjanjian untuk perawatan lanjut dan instruksi tertulis untuk perawatn sesudah pemeriksaan
    Instruksikan pasien untuk menggunakan obat  yang diberikan, inum sebanyak kurang lebih delapan gelas per hari khususnya sari buah berri.



    Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan masalah tentang rencana pengobatan.

        Untuk mengetahui tingkat pemahaman klien
    memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan beradasarkan informasi.

    pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan m,embantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencan terapetik.






    instruksi verbal dapat dengan mudah dilupakan





    Pasien sering menghentikan obat mereka, jika tanda-tanda penyakit mereda. Cairan menolong membilas ginjal. Asam piruvat dari sari buah berri membantu mempertahankan keadaan asam urin dan mencegah pertumbuhan bakteri

    Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhan dan membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik.


askep demensia

 BAB I
KONSEP MEDIS
A.    Pengertian
Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive) (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998). Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.
Demensia adalah satu penyakit yang melibatkan sel-sel otak yang mati secara abnormal. Hanya satu terminologi yang digunakan untuk menerangkan penyakit otak degeneratif yang progresif. Daya ingatan, pemikiran, tingkah laku dan emosi terjejas bila mengalami demensia. Penyakit ini boleh dialami oleh semua orang dari berbagai latarbelakang pendidikan maupun kebudayaan. Walaupun tidak terdapat sebarang rawatan untuk demensia, namun rawatan untuk menangani gejala-gejala boleh diperolehi.
B.    Epidemiologi
Laporan Departemen Kesehatan tahun 1998, populasi usia lanjut diatas 60 tahun adalah 7,2 % (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). Peningkatan angka kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi . Kira-kira 5 % usia lanjut 65 – 70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia diatas 85 tahun. Pada negara industri kasus demensia 0.5 –1.0 % dan di Amerika jumlah demensia pada usia lanjut 10 – 15% atau sekitar 3 – 4 juta orang.
Demensia terbagi menjadi dua yakni Demensia Alzheimer dan Demensia Vaskuler. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara maju Amerika dan Eropa sekitar 50-70%. Demensia vaskuler penyebab kedua sekitar 15-20% sisanya 15- 35% disebabkan demensia lainnya. Di Jepang dan Cina demensia vaskuler 50 – 60 % dan 30 – 40 % demensia akibat penyakit Alzheimer.
C.    Klasifikasi
•    Menurut Umur:
1.    Demensia senilis (>65th)
2.    Demensia prasenilis (<65th)
•    Menurut perjalanan penyakit:
1.    Reversibel
2.    Ireversibel
•    Menurut kerusakan struktur otak :
Tipe Alzheimer
1.    Tipe non-Alzheimer
2.    Demensia vaskular
3.    Demensia Jisim Lewy (Lewy Body dementia)
4.    Demensia Lobus frontal-temporal
5.    Demensia terkait dengan SIDA(HIV-AIDS)
6.    Morbus Parkinson
7.    Morbus Huntington
8.    Morbus Pick
9.    Morbus Jakob-Creutzfeldt
10.    Sindrom Gerstmann-StrĂ€ussler-Scheinker
11.    Prion disease
12.    Palsi Supranuklear progresif
13.    Multiple sklerosis
14.    Neurosifilis
•    Menurut sifat klinis:
1.    Demensia proprius
2.    Pseudo-demensia
D.    Etiologi
Disebutkan dalam sebuah literatur bahwa penyakit yang dapat menyebabkan timbulnya gejala demensia ada sejumlah tujuh puluh lima. Beberapa penyakit dapat disembuhkan sementara sebagian besar tidak dapat disembuhkan (Mace, N.L. & Rabins, P.V. 2006). Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia adalah penyakit Alzheimer, penyakit vascular (pembuluh darah), demensia Lewy body, demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain.
Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.
E.    Patofisiologi
Ada dua tipe demensia yang paling banyak ditemukan, yaitu tipe Alzheimer dan Vaskuler.
1.    Demensia Alzheimer
Gejala klinis demensia Alzheimer merupakan kumpulan gejala demensia akibat gangguan neuro degenaratif (penuaan saraf) yang berlangsung progresif lambat, dimana akibat proses degenaratif menyebabkan kematian sel-sel otak yang massif. Kematian sel-sel otak ini baru menimbulkan gejala klinis dalam kurun waktu 30 tahun. Awalnya ditemukan gejala mudah lupa (forgetfulness) yang menyebabkan penderita tidak mampu menyebut kata yang benar, berlanjut dengan kesulitan mengenal benda dan akhirnya tidak mampu menggunakan barang-barang sekalipun yang termudah. Hal ini disebabkan adanya gangguan kognitif sehingga timbul gejala neuropsikiatrik seperti, Waham (curiga, sampai menuduh ada yang mencuri barangnya), halusinasi pendengaran atau penglihatan, agitasi (gelisah, mengacau), depresi, gangguan tidur, nafsu makan dan gangguan aktifitas psikomotor, berkelana.
Stadium demensia Alzheimer terbagi atas 3 stadium, yaitu :
•    Stadium I
Berlangsung 2-4 tahun disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori, berhitung dan aktifitas spontan menurun. “Fungsi memori yang terganggu adalah memori baru atau lupa hal baru yang dialami
•    Stadium II
Berlangsung selama 2-10 tahun, dan disebutr stadium demensia. Gejalanya antara lain,
o    Disorientasi
o    gangguan bahasa (afasia)
o    penderita mudah bingung
o    penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, tidak mengenal anggota keluarganya tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi.
o    Dan ada gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungannya, depresi berat prevalensinya 15-20%,”
•    Stadium III Stadium ini dicapai setelah penyakit berlangsung 6-12 tahun.Gejala klinisnya antara lain:
o    Penderita menjadi vegetative
o    tidak bergerak dan membisu
o    daya intelektual serta memori memburuk sehingga tidak mengenal keluarganya sendiri
o    tidak bisa mengendalikan buang air besar/ kecil
o    kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan ornag lain
o    kematian terjadi akibat infeksi atau trauma
2.    Demensia Vaskuler
Untuk gejala klinis demensia tipe Vaskuler, disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di otak. “Dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat terjadinya demensia,”. Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi itu dapat didiuga sebagai demensia vaskuler. Gejala depresi lebih sering dijumpai pada demensia vaskuler daripada Alzheimer. Hal ini disebabkan karena kemampuan penilaian terhadap diri sendiri dan respos emosi tetap stabil pada demensia vaskuler.
Dibawah ini merupakan klasifikasi penyebab demensia vaskuker, diantaranya:
1.    Kelainan sebagai penyebab Demensia :
•    penyakit degenaratif
•    penyakit serebrovaskuler
•    keadaan anoksi/ cardiac arrest, gagal jantung, intioksi CO
•    trauma otak
•    infeksi (Aids, ensefalitis, sifilis)
•    Hidrosefaulus normotensif
•    Tumor primer atau metastasis
•    Autoimun, vaskulitif
•    Multiple sclerosis
•    Toksik
•    kelainan lain : Epilepsi, stress mental, heat stroke, whipple disease
2.    Kelainan/ keadaan yang dapat menampilkan demensi
    Gangguan psiatrik :
•    Depresi
•    Anxietas
•    Psikosis
    Obat-obatan :
•    Psikofarmaka
•    Antiaritmia
•    Antihipertensi
    Antikonvulsan
•    Digitalis
    Gangguan nutrisi :
•    Defisiensi B6 (Pelagra)
•    Defisiensi B12
•    Defisiensi asam folat
•    Marchiava-bignami disease
    Gangguan metabolisme :
•    Hiper/hipotiroidi
•    Hiperkalsemia
•    Hiper/hiponatremia
•    Hiopoglikemia
•    Hiperlipidemia
•    Hipercapnia
•    Gagal ginjal
•    Sindromk Cushing
•    Addison’s disesse
•    Hippotituitaria
•    Efek remote penyakit kanker
F.    Manifestasi Klinik
Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adanya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari.. Penderita yang dimaksudkan adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang.
Mereka sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai dirasakan oleh orang-orang terdekat yang tinggal bersama, mereka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin menjadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin Lansia kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua mereka.
Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan.
Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan, mulai dari pengkajian latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian syaraf, pengkajian status mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium.
Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin mengkhawatirkan, sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. Pemahaman perubahan tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi, halusinasi, depresi, kerusakan fungsi tubuh, cemas, disorientasi spasial, ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti, tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, melawan, marah, agitasi, apatis, dan kabur dari tempat tinggal (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998).
    Secara umum tanda dan gejala demensia adalah sebagai berikut:
1.    Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, “lupa” menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.
2.    Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu, bulan, tahun, tempat penderita demensia berada
3.    Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali
4.    Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul.
5.    Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah
G.    Diagnosis
Diagnosis difokuskan pada hal-hal berikut ini:
•    Pembedaan antara delirium dan demensia
•    Bagian otak yang terkena
•    Penyebab yang potensial reversibel
•    Perlu pembedaan dan depresi (ini bisa diobati relatif mudah)
•    Pemeriksaan untuk mengingat 3 benda yg disebut
•    Mengelompokkan benda, hewan dan alat dengan susah payah
•    Pemeriksaan laboratonium, pemeriksaan EEC
•    Pencitraan otak amat penting CT atau MRI
H.    Penanganan
Peran Keluarga
Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang akan dialami penderita demensia.
Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian Lansia, sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu Lansia agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita demensia.
Merawat penderita dengan demensia memang penuh dengan dilema, walaupun setiap hari selama hampir 24 jam kita mengurus mereka, mungkin mereka tidak akan pernah mengenal dan mengingat siapa kita, bahkan tidak ada ucapan terima kasih setelah apa yang kita lakukan untuk mereka. Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia. Tanamkanlah dalam hati bahwa penderita demensia tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Merekapun berusaha dengan keras untuk melawan gejala yang muncul akibat demensia.
Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat Lansia dengan demensia.
Tingkah Laku Lansia
Pada suatu waktu Lansia dengan demensia dapat terbangun dari tidur malamnya dan panik karena tidak mengetahui berada di mana, berteriak-teriak dan sulit untuk ditenangkan. Untuk mangatasi hal ini keluarga perlu membuat Lansia rileks dan aman. Yakinkan bahwa mereka berada di tempat yang aman dan bersama dengan orang-orang yang menyayanginya. Duduklah bersama dalam jarak yang dekat, genggam tangan Lansia, tunjukkan sikap dewasa dan menenangkan. Berikan minuman hangat untuk menenangkan dan bantu lansia untuk tidur kembali.
Lansia dengan demensia melakukan sesuatu yang kadang mereka sendiri tidak memahaminya. Tindakan tersebut dapat saja membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Mereka dapat saja menyalakan kompor dan meninggalkannya begitu saja. Mereka juga merasa mampu mengemudikan kendaraan dan tersesat atau mungkin mengalami kecelakaan. Memakai pakaian yang tidak sesuai kondisi atau menggunakan pakaian berlapis-lapis pada suhu yang panas.
Seperti layaknya anak kecil terkadang Lansia dengan demensia bertanya sesuatu yang sama berulang kali walaupun sudah kita jawab, tapi terus saja pertanyaan yang sama disampaikan. Menciptakan lingkungan yang aman seperti tidak menaruh benda tajam sembarang tempat, menaruh kunci kendaraan ditempat yang tidak diketahui oleh Lansia, memberikan pengaman tambahan pada pintu dan jendela untuk menghindari Lansia kabur adalah hal yang dapat dilakukan keluarga yang merawat Lansia dengan demensia di rumahnya.

I.    Terapi
Pertama perlu diperhatikan keselamatan pasien, lingkungan dibuat senyaman mungkin, dan bantuan pengasuh perlu.
•    Koridor tempat jalan, tangga, meja kursi tempat barang keperkuannya
•    Tidak diperbolehkan memindahkan mobil dsb.
•    Diberi keperluan yang mudah dilihat, penerangan lampu terang, jam dinding besar, tanggalan yang angkanya besar
•    Obat:
Nootropika:
1.    Pyritinol (Encephabol) 1 x 100 - 3 x 200 mg
2.    Piracetam (Nootropil) 1 x 400 - 3 x 1200 mg
3.    Sabeluzole (Reminyl)
Ca-antagonist:
1.    Nimodipine(Nimotop 1- 3 x 30 mg)
2.    Citicholine (Nicholin) 1 - 2 x 100 - 300 mg i.v./i.m.
3.    Cinnanzine (Stugeron) 1 - 3 x 25 mg
4.    Pentoxifylline (Trental) 2 - 3 x 400 mg (oral), 200 - 300 mg infuse
5.    Pantoyl-GABA
Acetylcholinesterase inhibitors
1.    Tacnne 10 mg dinaikkan lambatlaun hingga 80 mg. Hepatotoxik
2.    Donepezil (Aricept) centrally active reversible cholinesterase inhibitor, 5 mg 1x /hari
3.    Galantamine (Riminil) 1 - 3 x 5 mg
4.    Rivastigmin (Exelon) 1,5, 3, 4, 5, 6 mg
5.    Memantine 2 x 5 mg 10 mg

J.    Pencegahan & Perawatan Demensia
Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak, seperti :
1.    Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan
2.    Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari.
3.    Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif
o    Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.
o    Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang memiliki persamaan minat atau hobi
4.    Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.












BAB II
KONSEP KEPERAWATAN
A.    Pengkajian
•    Aktivitas/ istirahat
Gejala    : merasa lelah  
Tanda    : siang/malam gelisah, tidak berdaya, gangguan pola tidur.
Letargi : penurunan minat/perhatian pada aktivitas yang biasa, hobi, ketidakmampuan untuk menyebutkan kembali apa yang dibaca/mengikuti acara program televise.
Gangguan keterampilan motorik, ketidak mampuan untuk melakukan hal yang telah biasa dilakukannya, gerakan yang sangat bermanfaat.
•    Sirkulasi
Gejala    : riwayat penyakit vaskuler serebral/sistemik, hipertensi, episode emboli (merupakan factor predisposisi).
•    Integritas ego
Gejala    : curiga/takut terhadap situasi/orang khayalan.
Kesalahan persepsi terhadap lingkungan, kesalahan identifikasi terhadap objek dan orang.
Kehilangan multiple, perubahan citra tubuh da harga diri yang dirasakan.
Tanda    : menyembunyikan ketidak mampuan (banyak alasan tidak mampu untuk melakukan kewajiban, mungkin juga tangan membuka buku namun tanpa membacanya).
Emosi labil; mudah menangis, tertawa tidak pada tempatnya; perubahan alam perasaan (apatis, letargi, gelisah, lapang pandang sempit, peka rangsang); marah yang tiba-tiba diungkapkan.
•    Eliminasi
Gejala    : dorongan berkemih (dapat mengindikasikan kehilangan tonus otot).
Tanda    : inkontinensia urin/feses; cenderung konstipasi/impaksi dengan diare.
•    Makanan/cairan
Gejala    : riwayat hipoglikemia (merupakan factor predisposisi)
Perubahan dalam pengecapan, nafsu makan, mengingkari terhadap rasa lapar/kebutuhan untuk makan.
Kehilangan berat badan.
Tanda    : kehilangan kemampuan untuk mengunyah.
•    Hygiene
Gejala    : perlu bantuan/tergantung pada orang lain.
Tanda    : tidak mampu mempertahankan keterampilan, kebiasaan personal yang kurang, kebiasaan pembersihan buruk.
Lupa untuk pergi ke kamar mandi, lupa langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk buang air, atau tidak dapat menemukan kamar mandi.
Lupa tentang waktu makan; ketergantungan pada orang lain untuk memasak dan menyiapkan makanan dimeja, makan, menggunakan alat makan.
•    Neurosensori
Gejala    : gambaran yang kabur, kelelahan, pusing/sakit kepala.
Adanya keluhan dalam penurunan kemampuan kognitif, mengambil keputusan, mengingat yang baru berlalu.
Tanda    : kerusakan komunikasi, kesulitan dalam menemukan kata-kata yang benar, bertanya berulang-ulang.
•    Kenyamanan
Gejala    : adanya riwayat trauma kepala yang serius
Tanda    : rasa bermusuhan/ menyerang orang lain.
•    Interaksi social
Gejala    : merasa kehilangan kekuatan.
Tanda    : kehilangan control social, perilaku tidak tepat.

B.    Diagnosa keperawatan

1.    Perubahan proses pikir : pikun/pelupa berhubungan dengan degenerasi neuron ireversibel.
2.    Resiko cedera : jatuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengenali/mengidentifikasi bahaya dalam lingkungan.

C.    Intervensi Keperawatan
Diagnosa I Perubahan proses pikir : pikun/pelupa berhubungan dengan degenerasi neuron ireversibel.
•    Tindakan keperawatan untuk pasien
Tujuan :
Agar pasien mampu:
a.    Mengenal/berorientasi terhadap waktu orang dan tempat
b.    Melakukan aktiftas sehari-hari secara optimal.

Criteria hasil :
    Mampu mengenal orang sekitarnya
Intervensi :
1.    Beri kesempatan bagi pasien untuk mengenal barang milik pribadinya misalnya tempat tidur, lemari, pakaian dll.
2.    Beri kesempatan kepada pasien untuk mengenal waktu dengan menggunakan jam besar, kalender yang mempunyai lembar perhari dengan tulisan besar.
3.    Beri kesempatan kepada pasien untuk menyebutkan namanya dan anggota keluarga terdekat
4.    Beri kesempatan kepada klien untuk mengenal dimana dia berada.
5.    Berikan pujian jika pasien bila pasien dapat menjawab dengan benar.
6.    Observasi kemampuan pasien untuk melakukan aktifitas sehari-hari
7.    Beri kesempatan kepada pasien untuk memilih aktifitas yang dapat dilakukannya.
8.    Bantu pasien untuk melakukan kegiatan yang telah dipilihnya
9.    Beri pujian jika pasien dapat melakukan kegiatannya.
10.    Tanyakan perasaan pasien jika mampu melakukan kegiatannya.
11.    Bersama pasien membuat jadwal kegiatan sehari-hari.

•    Tindakan untuk keluarga
Tujuan :
a.    Keluarga mampu mengorientasikan pasien terhadap waktu, orang dan tempat
b.    Menyediakan saran yang dibutuhkan pasien untuk melakukan orientasi realitas
c.    Membantu pasien dalam melakukan aktiftas sehari-hari.
Intervensi :
1.    Diskusikan dengan keluarga cara-cara mengorientasikan waktu, orang dan tempat pada pasien
2.    Anjurkan keluarga untuk menyediakan jam besar, kalender dengan tulisan besar
3.    Bantu keluarga memilih kemampuan yang dilakukan pasien saat ini.
4.    Anjurkan kepada keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan terhadap kemampauan yang masih dimiliki oleh pasien
5.    Anjurkan keluarga untuk memantu lansia melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki
6.    Anjurkan keluarga untuk memantau kegiatan sehari-hari pasien sesuai dengan jadwal yang telah dibuat.
7.    Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan yang masih dimiliki pasien
8.    Anjurkan keluarga untuk membantu pasien melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki
9.    Anjurkan keluarga memberikan pujian jika pasien melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal kegiatan yang sudah dibuat.
Diagnosa II Resiko cedera : jatuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengenali/mengidentifikasi bahaya dalam lingkungan.
•    Tindakan pada pasien
Tujuan :
a.    Pasien terhindar dari cedera
b.    Pasien mampu mengontrol aktifitas yang dapat mencegah cedera.
Criteria hasil :
    Aktivitas sehari – hari tidak terganggu lagi.
    Dapat mengenali lingkungan sekitar.
Intervensi :
1.    Jelaskan faktor-faktor risiko yang dapa menimbulkan cedera dengan bahasa yang sederhana
2.    Ajarkan cara-cara untuk mencegah cedera: bila jatuh jangan panik tetapi berteriak minta tolong
3.    Berikan pujian terhadap kemampuan pasien menyebutkan cara-cara mencegah cedera.
•    Tindakan untuk keluarga
Tujuan :
Keluarga mampu:
a.    Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menyebabkan cedera pada pasien
b.    Keluarga mampu menyediakan lingkungan yang aman untuk mencegah cedera
Intervensi :
1.    Diskusikan dengan keluarga faktor-faktor yang dapat menyebabkan cedera pada pasien
2.    Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang aman seperti: lantai rumah tidak licin, jauhkan benda-benda tajam dari jangkauan pasien, berikan penerangan yang cukup, lampu tetap menyala di siang hari, beri alat pegangan dan awasi jika pasien merokok, tutup steker dan alat listrik lainnya dengan plester, hindarkan alat-alat listrik lainnya dari jangkauan klien, sediakan tempat tidur yang rendah
3.    Menganjurkan keluarga agar selalu menemani pasien di rumah serta memantau aktivitas harian yang dilakukan
D.    Evaluasi
Untuk mengukur keberhasilan asuhan keperawatan yang dilakukan, dapat dengan menilai kemampuan klien dan keluarga:
     Perubahan proses pikir : pikun/pelupa berhubungan dengan degenerasi neuron ireversibel.
Kemampuan pasien:
1.    Mampu menyebutkan hari, tanggal dan tahun sekarang dengan benar
2.    Mampu menyebutkan nama orang yang dikenal
3.    Mampu menyebutkan tempat dimana pasien berada saat ini
4.    Mampu melakukan kegiatan harian sesuai jadual
5.    Mampu mengungkapkan perasaannya setelah melakukan kegiatan
Kemampuan keluarga:
1.    Mampu membantu pasien mengenal waktu temapt dan orang
2.    Menyediakan kalender yang mempunyai lembaran perhari dengan tulisan besar dan jam besar
3.    Membantu pasien melaksanakan kegiatan harian sesuai jadual yang telah dibuat
4.    Memberikan pujian setiap kali pasien mampu melaksanakan kegiatan harian
     Resiko cedera : jatuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengenali/mengidentifikasi bahaya dalam lingkungan.
Kemampuan pasien:
1.    Menyebutkan dengan bahasa sederhana faktor-faktor yang menimbulkan cedera
2.    Menggunakan cara yang tepat untuk mencegah cedera
3.    Mengontrol aktivitas sesuai kemampuan
Kemampuan keluarga
1.    Keluarga dapat mengungkapkan faktor-faktor yang dapat menimbulkan cedera pada pasien
2.    Menyediakan pengaman di dalam rumah
3.    Menjauhkan alat-alat listrik dari jangkauan pasien
4.    Selalu menemani pasien di rumah
5.    Memantau kegiatan harian yang dilakukan pasien





ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN IBU HAMIL

 Tugas     :  Keperawatan Keluarga

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
DENGAN IBU HAMIL  

    



 OLEH
                                                 KELOMPOK I :
          WD. MARLINA ROSTAM            DESRIANI NATALIA
         SIRATMI NINGSIH                NANI ISRIWATI
         SANIATI                           AL RAFIUT SADIYAH
         WD. LISNA                            SITI FARIATI
         SILFIATI                 SRI ENDANG MALIASARI
   
     PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MANDALA WALUYA
KENDARI
2010
       BAB I
         KONSEP MEDIS
A.    Pengertian
Bumil adalah: suatu kondisi dimana seorang perempuan mengalami kehamilan.
 Kehamilan adalah: suatu kondisi yang terjadi bila ada pertemuan dan persenyawaan antara sel telur (ovum) dan sel mani (spermatozoa).
 Kehamilan terbagi atas: trimester I (1 – 14 minggu), trimester II (14 – 28 minggu),     trimester III (28 – 42 minggu).

B.    Konsep Perkembangan
Perkembangan / Perubahan Fisik
1.    Perubahan pada kulit
Terjadi hiperpigmentasi yaitu kelebihan pigmen di tempat tertentu. Pada wajah, pipi, dan hidung mengalami hiperpigmentasi sehingga menyerupai topeng (topeng kehamilan atau kloasma gravidarum). Pada areola mamae dan Puting susu, daerah yang berwarna hitam di sekitar puting susu akan menghitam. Sekitar areola yang biasanya tidak berwarna akan berwarna hitam. Hal ini disebut areola mamae sekunder. Puting susu menghitam dan membesar sehingga lebih menonjol. Pada areola suprapubis, terdapat garis hitam yang memanjang dari atas simfisis sampai pusat. Warnanya lebih hitam dibandingkan sebelumnya, muncul garis baru yang memanjang ditengah atas pusat (linea nigra). Pada perut, selain hiperpigmentasi terjadi stria gravidarum yang merupakan garis pada kulit. Terdapat 2 jenis stria gravidarum yaitu stria livida (garis berwarna biru) dan stria albikan (garis berwarna putih). Hal ini terjadi karena pengaruh melanophore stimulating hormone lobus hipofisis anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis.
2.     Perubahan kelenjar
Kelenjar gondok membesar sehingga leher ibu berbentuk seperti leher pria. Perubahan    ini tidak selalu terjadi pada wanita hamil.  
3.    Perubahan payudara  
Perubahan ini pasti terjadi pada wanita hamil karena dengan semakin dekatnya persalinan, payudara menyiapkan diri untuk memproduksi makanan pokok untuk bayi setelah lahir. Perubahan yang terlihat pada payudara adalah sebagai berikut.
a.    Payudara membesar, tegang dan sakit
b.     Vena di bawah kulit payudara membesar dan terlihat jelas
c.    Hiperpigmentasi pada areola mamae dan puting susu serta muncul areola mamae sekunder
d.    Kelenjar Montgomery yang terletak di dalam areola mamae membesar dan kelihatan dari luar. Kelenjar Montgomery mengeluarkan lebih banyak cairan agar puting susu selalu lembab dan lemas sehingga tidak menjadi tempat berkembang biak bakteri.
e.    Payudara ibu mengeluarkan cairan apabila dipijat. Mulai kehamilan 16 minggu, cairan yang dikeluarkan jernih. Pada kehamilan 16 minggu sampai 32 minggu, warna cairan agak putih seperti air susu yang sangat encer. Dari kehamilan 32 minggu sampai anak lahir, cairan yang dikeluarkan lebih kental, berwarna kuning, dan banyak mengandung lemak. Cairan ini disebut kolostrum.
4.    Perubahan perut  
Semakin mendekati masa persalinan, perut semakin besar. Biasanya hingga kehamilan 4 bulan, pembesaran perut belum kelihatan. Setelah kehamilan 5 bulan, perut mulai kelihatan membesar. Saat hamil tua, perut menjadi tegang dan pusat menonjol ke luar. Timbul stria gravidarum dan hiperpigmentasi pada linea alba serta linea nigra.  
5.     Perubahan alat kelamin luar  
Alat kelamin luar ini tampak hitam kebiruan karena adanya kongesti pada peredaran darah. Kongesti terjadi karena pembuluh darah membesar, darah yang menuju uterus sangat banyak, sesuai dengan kebutuhan uterus untuk membesarkan dan memberi makan janin. Gambaran mukosa vagina yang mengalami kongesti berwarna hitam kebiruan tersebut disebut tanda Chadwick.
6.     Perubahan pada tungkai  
Timbul varises pada sebelah atau kedua belah tungkai. Pada hamil tua, sering terjadi edema pada salah satu tungkai. Edema terjadi karena tekanan uterus yang membesar pada vena femoralis sebelah kanan atau kiri.

7.     Perubahan pada sikap tubuh  
Sikap tumbuh ibu menjadi lordosis karena perut yang membesar.
Perkembangan / Perubahan Psikologis.  
Menurut teori Rubin, perubahan psikologis yang terjadi pada:
Trimester I meliputi: ambivalen, takut, fantasi, dan khawatir.
Trimester II meliputi: perasaan lebih nyaman serta kebutuhan mempelajari perkembangan dan pertumbuhan janin meningkat. Kadang tampak egosentris dan berpusat pada diri sendiri.Trimester III meliputi: memiliki perasaan aneh, sembrono, lebih introvert, dan merefleksikan pengalaman masa lalu.  

B.     Masalah yang sering terjadi  
1.    Respon terhadap perubahan citra tubuh  
Perubahan fisiologis kehamilan menimbulkan perubahan bentuk tubuh yang cepat dan nyata. Selama trimester I bentuk tubuh sedikit berubah, tetapi pada trimester II pembesaran abdomen yang nyata, penebalan pinggang dan pembesaran payudara memastikan status kehamilan. Wanita merasa seluruh tubuhnya bertambah besar dan menyita ruang yang lebih luas. Perasaan ini semakin kuat seiring bertambahnya usia kehamilan. Secara bertahap terjadi kehilangan batasan – batasan fisik secara pasti, yang berfungsi memisahkan diri sendiri dari orang lain dan memberi rasa aman.
Sikap wanita terhadap tubuhnya di duga dipengaruhi oleh nilai – nilai yang diyakininya dan sifat pribadinya. Sikap ini sering berubah seiring kemajuan kehamilan. Sikap positif terhadap tubuh biasanya terlihat selama trimester I. Namun, seiring kemajuan kehamilan, perasaan tersebut menjadi lebih negatif. Pada kebanyakan wanita perasaan suka atau tidak suka terhadap tubuh mereka dalam keadaan hamil bersifat sementara dan tidak menyebabkan perubahan persepsi yang permanen tentang diri mereka.
2.    Ambivalensi selama masa hamil
Ambivalensi didefinisikan sebagai konflik perasaan yang simultan, seperti cinta dan benci terhadap seseorang, sesuatu, atau suatu keadaan. Ambivalensi adalah respon normal yang dialami individu yang mempersiapkan diri untuk suatu peran baru. Kebanyakan wanita memiliki sedikit perasaan ambivalen selama hamil.
Bahkan wanita yang bahagia dengan kehamilannya, dari waktu ke waktu dapat memiliki sikap bermusuhan terhadap kehamilan atau janin. Pernyataan pasangan tentang kecantikan seorang wanita yang tidak hamil atau peristiwa promosi seorang kolega ketika keputusan untuk memiliki seorang anak berarti melepaskan pekerjaan dapat meningkatkan rasa ambivalen. Sensasi tubuh, perasaan bergantung, dan kenyataan tanggung jawab dalam merawat anak dapat memicu perasaan tersebut.
Perasaan ambivalen berat yang menetap sampai trimester III dapat mengindikasikan bahwa konflik peran sebagai ibu belum diatasi (Lederman, 1984). Setelah kelahiran seorang bayi yang sehat, kenangan akan perasaan ambivalen ini biasanya lenyap. Apabila bayi yang lahir cacat, seorang wanita kemungkinan akan mengingat kembali saat – saat ia tidak menginginkan anak tersebut dan merasa sangat bersalah. Tanpa penyuluhan dan dukungan yang memadai, ia dapat menjadi yakin bahwa perasaan ambivalennya telah menyebabkan anaknya cacat.
3.     Hubungan seksual  
Ekspresi seksual selama masa hamil bersifat individual. Beberapa pasangan menyatakan puas dengan hubungan seksual mereka, sedangkan yang lain mengatakan sebaliknya. Perasaan yang berbeda – beda ini dipengaruhi oleh faktor – faktor fisik, emosi, dan interaksi, termasuk takhayul tentang seks selama masa hamil, masalah disfungsi seksual, dan perubahan fisik pada wanita.  
Dengan berlanjutnya kehamilan, perubahan bentuk tubuh, citra tubuh, dan rasa tidak nyaman mempengaruhi keinginan kedua belah pihak untuk menyatakan seksualitas mereka. Selama trimester I seringkali keinginan seksual wanita menurun, terutama jika ia merasa mual, letih, dan mengantuk. Saat memasuki trimester II kombinasi antara perasaan sejahteranya dan kongesti pelvis yang meningkat dapat sangat meningkatkan keinginannya untuk melampiaskan seksualitasnya. Pada trimester III peningkatan keluhan somatik (tubuh) dan ukuran tubuh dapat menyebabkan kenikmatan dan rasa tertarik terhadap seks menurun (Rynerson, Lowdermilk, 1993).
Pasangan tersebut perlu merasa bebas untuk membahas hubungan seksual mereka selama masa hamil. Kepekaan individu yang satu terhadap yang lain dan keinginan untuk berbagi masalah dapat menguatkan hubungan seksual mereka. Komunikasi antara pasangan merupakan hal yang penting. Pasangan yang tidak memahami perubahan fisiologis dan emosi, yang terjadi dengan cepat selama masa hamil, dapat menjadi bingung saat melihat perilaku pasangannya. Dengan membicarakan perubahan – perubahan yang mereka alami, pasangan dapat mendefinisikan masalah mereka dan menawarkan dukungan yang diperlukan. Perawat dapat memperlancar komunikasi antar pasangan dengan berbicara kepada pasangan tentang perubahan perasaan dan perilaku yang mungkin dialami wanita selama masa hamil (Rynerson, Lowdermilk, 1993).
4.     Kekhawatiran tentang janin
Kekhawatiran orang tua terhadap kesehatan anak berbeda – beda selama masa hamil (Gaffney, 1988). Kekhawatiran pertama timbul pada trimester I dan berkaitan dengan kemungkinan terjadinya keguguran. Banyak wanita yang sengaja tidak mau memberitahukan kehamilannya kepada orang lain sampai periode ini berlalu. Ketika janin menjadi semakin jelas, yang terlihat dengan adanya gerakan dan denyut jantung, Kecemasan orang tua yang terutama ialah kemungkinan cacat pada anaknya. Orang tua mungkin akan membicarakan rasa cemasnya ini secara terbuka dan berusaha untuk memperoleh kepastian bahwa anaknya dalam keadaan sempurna. Pada tahap lanjut kehamilan, rasa takut bahwa anaknya dapat meninggal semakin melemah. Kemungkinan kematian ini terbukti semakin tidak dipikirkan orang tua.



C.    Tugas Perkembangan
1.    Menerima Kehamilan
Langkah pertama dalam beradaptasi terhadap peran ibu ialah menerima ide kehamilan dan mengasimilasi status hamil ke dalam gaya hidup wanita tersebut (Lederman, 1984). Tingkat penerimaan dicerminkan dalam kesiapan wanita dan respons emosionalnya dalam menerima kehamilan.
Kesiapan menyambut kehamilan.  
a.    Kesiapan menyambut kehamilan
Ketersediaan keluarga berencana mengandung makna bahwa kehamilan bagi banyak wanita merupakan suatu komitmen tanggung jawab bersama pasangan. Namun, merencanakan suatu kehamilan tidak selalu berarti menerima kehamilan (Entwistle, Doering, 1981).Wanita lain memandang kehamilan sebagai suatu hasil alami hubungan perkawinan, baik diinginkan maupun tidak diinginkan, bergantung pada keadaan.
Wanita yang siap menerima suatu kehamilan akan dipicu gejala - gejala awal untuk mencari validasi medis tentang kehamilannya. Beberapa wanita yang memiliki perasaan kuat, seperti “tidak sekarang,” bukan saya,” dan “ tidak yakin,” mungkin menunda mencari pengawasan dan perawatan (Rubin, 1970). Namun , beberapa wanita menunda validasi medis karena akses keperawatan terbatas, merasa malu, atau alasan budaya. Untuk orang lain, kehamilan dipandang sebagai suatu peristiwa alami, sehingga tidak perlu mencari validasi medis dini.
Setelah kehamilan dipastikan respon emosi wanita dapat bervariasi, dari perasaan sangat gembira sampai syok, tidak yakin, dan putus asa. Reaksi yang diperlihatkan banyak wanita ialah respon” suatu hari nanti, tetapi tidak sekarang.”
Wanita lain dengan sederhana menerima kehamilan sebagai kehendak alam. Banyak wanita mula- mula terkejut ketika mendapatkan diri mereka hamil. Namun, seiring meningkatnya penerimaan terhadap kehadiran seorang anak, akhirnya mereka menerima kehamilan. Tidak menerima kehamilan tidak dapat disamakan dengan menolak anak. Seorang wanita mungkin tidak menyukai kenyataan dirinya hamil, tetapi agar anak itu dilahirkan.  
b.     Respon Emosional
Wanita yang bahagia dan senang dengan kehamilannya sering memandang hal tersebut sebagai pemenuhan biologis dan merupakan bagian dari rencana hidupnya. Mereka memiliki harga diri yang tinggi dan cenderung percaya diri akan hasil akhir untuk dirinya sendiri, untuk bayinya, dan untuk anggota keluarga yang lain. Meskipun secara umum keadaan mereka baik, namun kelabilan emosional yang terlihat pada perubahan mood yang cepat untuk dijumpai pada wanita hamil.
Perubahan mood yang cepat dan peningkatan sensitifitas terhadap orang lain ini membingungkan calon ibu dan orang- orang di sekelilingnya. Peningkatan iritabilitas, uraian air mata dan kemarahan serta perasaan suka cita, serta kegembiraan yang luar biasa muncul silih berganti hanya karena suatu provokasi kecil atau tanpa provokasi sama sekali.
Perubahan hormonal yang merupakan bagian dari respon ibu terhadap kehamilan, dapat menjadi penyebab perubahan mood, hampir sama seperti saat akan menstruasi atau selama menopause. Alasan lain, seperti masalah seksual atau rasa takut terhadap nyeri selama melahirkan, juga dijadikan penjelasan timbulnya perilaku yang tidak menentu ini.
Seiring kemajuan kehamilan, wanita lebih menjadi terbuka tentang terhadap diri sendiri dan orang lain. Ia bersedia membicarakan hal- hal yang tidak pernah dibahas atau yang dibahas hanya dalam keluarga dan tampak yakin bahwa pikiran- pikirannya dan gejala - gejala yang dialaminya akan menarik untuk si pendengar yang dianggapnya protektif. Keterbukaan ini, disertai kesiapan untuk belajar, meningkatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan wanita hamil dan meningkatkan kemungkinan diselenggarakannya perawatan yang efektif dan terapeutik untuk mendukung kehamilan.  
Apabila anak tersebut diingingkan, rasa tidak nyaman yang timbul akibat kehamilan cenderung dianggap sebagai suatu iritasi dan upaya dilakukan untuk meredakan rasa nyaman tersebut biasanya membawa keberhasilan. Rasa senang yang timbul karena memikirkan anak yang akan lahir dan perasaan dekat dengan anak membantu menyesuaikan diri terhadap rasa tidak nyaman ini.
Pada beberapa keadaan wanita yang biasanya mengeluhkan ketidak nyamanan fisik dapat mencari bantuan untuk mengatasi konflik peran ibu dan tanggung jawabnya. Pengkajian lebih lanjut tentang toleransi dan kemampuan koping perlu dilakukan (Lederman, 1984).
2.     Mengenal peran ibu
Proses mengidentifikasi peran ibu dimulai pada awal setiap kehidupan seorang wanita, yakni melalui memori - memori ketika ia, sebagai seorang anak, diasuh oleh ibunya. Persepsi kelompok sosialnya mengenai peran feminim juga membuatnya condong memilih peran sebagai ibu atau wanita karir, menikah atau tidak menikah, dan mandiri dari pada interdependen. Peran - peran batu loncatan, seperti bermain dengan boneka, menjaga bayi, dan merawat adik - adik, dapat meningkatkan pemahaman tentang arti menjadi seorang ibu.
Banyak wanita selalu menginginkan seorang bayi, menyukai anak - anak, dan menanti untuk menjadi seorang ibu. Mereka sangat dimotivasi untuk menjadi orang tua. Hal ini mempengaruhi penerimaan mereka terhadap kehamilan dan akhirnya terhadap adaptasi prenatal dan adaptasi menjadi orang tua (Grossman, Eichler, Winckooff,1980 ;Lederman, 1984). Wanita yang lain tidak mempertimbangkan dengan terinci arti menjadi seorang ibu bagi diri mereka sendiri. Konflik selama masa hamil, seperti tidak menginginkan kehamilan dan keputusan - keputusan yang berkaitan denga karir dan anak harus diselesaikan.
3.     Hubungan Ibu – Anak  
Ikatan emosional dengan anak mulai timbul pada periode prenatal, yakni ketika wanita mulai membayangkan dan melamunkan dirinya menjadi ibu (Rubin, 1975; Gaffney, 1988a). Mereka mulai berpikir seakan - akan dirinya adalah seorang ibu dan membayangkan kualitas ibu seperti apa yang mereka miliki. Orang tua yang sedang menantikan bayi berkeinginan untuk menjadi orang tua yang hangat, penuh cinta, dan dekat dengan anaknya. Mereka mencoba untuk mengantisipasi perubahan - perubahan yang mungkin terjadi pada kehidupannya akibat kehadiran sang anak dan membayangkan apakah mereka bisa tahan terhadap kebisingan, kekacauan, kurangnya kebebasan, dan bentuk perawatan yang harus mereka berikan. Mereka mempertanyakan kemampuan mereka untuk membagi kasih mereka kepada anak yang belum dilahirkan ini. Rubin (1967) menemukan bahwa wanita “ menerapkan “dan menguji perannya sebagai ibu dengan mengambil contoh ibunya sendiri atau wanita lain pengganti ibu yang memberi pelayanan, dukungan, atau berperan sebagai sumber informasi dan pengalaman.
Hubungan ibu - anak terus berlangsung sepanjang masa hamil sebagai suatu proses perkembangan(Rubin, 1975).
Persiapan melahirkan, banyak wanita khususnya nulipara, secara aktif mempersiapkan diri untuk menghadapi persalinan. Mereka membaca buku, menghadiri kelas untuk orang tua, dan berkomunikasi dengan wanita lain (ibu, saudara perempuan, teman, orang yang tidak dikenal).Mereka akan mencari orang terbaik untuk memberi nasihat, arahan, dan perawatan (Patterson, Freese, Goldenberg, 1990). Rasa cemas dapat timbul akibat kekhawatiran akan proses kelahiran yang aman untuk dirinya dan anaknya (Rubin, 1975).

4.     Hubungan dengan Pasangan  
Orang yang paling penting bagi seorang wanita hamil biasanya ialah ayah dari sang anak (Richardson,1983), karena semakin banyak bukti menunjukkan bahwa wanita yang diperhatikan dan dikasihi oleh pasangan prianya selama hamil akan menunjukkan lebih sedikit gejala emosi dan fisik, lebih sedikit komplikasi persalinan, dan lebih mudah melakukan penyesuaian selama masa nifas (Grossman,Eichler,Winckoff,1980; May,1982). Ada 2 kebutuhan utama yang ditunjukkan wanita selama ia hamil (Richardson,1983).
 Kebutuhan pertama ialah menerima tanda – tanda bahwa ia dicintai dan dihargai. Kebutuhan kedua ialah merasa yakin akan penerimaan pasangannya terhadap sang anak dan mengasimilasi bayi tersebut ke dalam kelurga. Rubin (1975) menyatakan bahwa wanita hamil harus “memastikan tersedianya akomodasi sosial dan fisik dalam keluarga dan rumah tangga untuk anggota baru tersebut.Hubungan pernikahan tidak tetap, tetapi berubah dari waktu ke waktu. Bertambahnya seorang anak akan mengubah sifat ikatan pasangan untuk selama – lamanya. Lederman (1984) melaporkan bahwa hubungan istri dan suami bertambah dekat selama masa hamil. Dalam studinya, ia mengatakan bahwa kehamilan berdampak mematangkan hubungan suami – istri akibat peran dan aspek – aspek baru yang ditemukan dalam diri masing – masing pasangan.
5.     Kesiapan untuk melahirkan  
Menjelang akhir trimester III, wanita akan mengalami kesulitan napas dan gerakan janin menjadi cukup kuat sehingga mengganggu tidur ibu.
 Nyeri pinggang, sering berkemih, keinginan untuk berkemih, konstipasi, dan timbulnya varies dapat sangat mengganggu. Ukuran tubuh yang besar dan rasa canggung mengganggu kemampuannya melakukan pekerjaan rumah tangga rutin, dan mengambil posisi yang nyaman untuk tidur dan istirahat.
Pada saat ini kebanyakan wanita akan tidak sabar untuk menjalani persalinan, apakah disertai rasa suka cita, rasa takut, atau campuran keduanya. Keinginan yang kuat untuk melihat hasil akhir kehamilannya dan untuk segera menyelesaikannya membuat wanita siap masuk ke tahap persalinan.















KASUS
    Tn.A menikah dengan Ny.S pada tahun 2010 lalu dan saat ini Ny.S sedang mengandung anak pertama. Kehamilan Ny. S sekarang mulai masuk trimester II. Ny.S mengatakan selama kehamilan sering merasakan pusing dan  memang Ny.S tampak kelihatan pucat. Menurut pengakuan Ny.S baru 1x memeriksakan kehamilannya di puskesmas, dan menurut hasil pemeriksaan Ny.S menderita anemia. Ny.S Mengatakan  jarang makan makanan yang bergizi yang berguna untuk perkembangan janinnya.Ny S juga mengeluhkan perubahan – perubahan yang terjadi pada dirinya, seperti berat badannya yang mulai meningkat dan sering merasa lelah.
    Ny.S mengatakan susah tidur karena kondisi kamar yang sempit dan pengap, di tambah lagi kebisingan di sekitar lingkungan rumah.
Hasil pemeriksaan :
TTV :        TD    : 100/80
            Nadi    : 70 x/menit
            R    : 24x/menit
            S    : 36,5 ÂșC
          


ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
DENGAN IBU HAMIL

A.    Pengkajian
1.    Identifikasi data
a.     Kepala Keluarga
Nama              : Tn.A
Jenis Kelamin          : Laki-laki
Suku                         : Tolaki
Umur                        : 28 Tahun
Agama                       : Islam
Pendidikan               : SMA
Pekerjaan                    : Wiraswasta
Alamat                        : Kampus Baru

b.     Susunan Anggota Keluarga
No.    NAMA    L/P    USIA    HUB. KK    PENDIDIKAN    PEKERJAAN
1.
2.    Tn. A
Ny.S    L
P    28 tahun
22 tahun    Ayah
Istri    SMA
SMA    Wiraswasta
IRT




c.    Genogram







Keterangan :
  : Laki-laki  
                       : Perempuan
              : Meninggal
              : Ikatan Perkawinan
             : Tinggal Satu Rumah

Berdasarkan genogram di atas dari kedua generasi sebelumnya tidak ada yang menderita penyakit keturunan seperti DM, jantung dan hipertensi. Pada generasi pertama meninggal karena faktor usia baik dari pihak keluarga Ny.S maupun pihak keluarga Tn.A
 
.d.  Tipe Keluarga
Keluarga Tn. A merupakan tipe keluarga inti yang anggota keluarganya terdiri dari suami dan istri.

d.    Latar Belakang Budaya
1)    Latar belakang budaya keluarga Tn.A
Tn. A mengatakan keluarganya adalah asli suku Tolaki yang berkebangsaan Indonesia. Dialek dan aksen masih kental dalam keluarga.
2)    Bahasa dirumah yang di gunakan
Bahasa yang di gunakan adalah bahasa indonesia dan bahasa daerah.jika berbicara dengan istri/suami keluarga menggunakan bahasa daerah tolaki.namun jika bebicara dengan tetangga keluara menggunakan bahasa Indonesia.
3)    Kondisi asal/ daearah setempat
Keadaan sekitar rumah sangat berdekatan dengan tetangganya. Tidak ada warga negara asing yang berdomisili di sekitar rumah.
4)    Hubungan sosial keluarga dengan etnis yang tidak sama
Keluarga Tn. A cukup familiar dengan keluarga- keluarga yang lain. Termasuk dengan etnis yang tidak sama, seperti etnis Muna dan Bugis.
5)    Tempat tinggal keluarga rata- rata berasal dari etnis yang sama atau tidak.
Etnis orang disekitar rumah adalah beragam,seperti etnis Muna dan Bugis.
6)    Aktivitas agama, sosial, budaya, rekreasi, dan pendidikan keluarga
Keluarga Tn. A tidak terlalu aktif melakukan kegiatan- kegiatan keagamaan. Sering keluarga tampak bersosialisasi dengan keluarga lain disekitar. Keluarga tergolong ramah dengan orang- orang sekitar . Keluarga jarang melakukan rekreasi, jika waktu luang keluarga pergi berkumpul dirumah orang tua Tn.A yang kebetulan jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Tn. A.
Tn. A sebagai kepala keluarga hanya berpendidikan SMA demikian juga istrinya Ny. S.
7)    Kebiasaan diet
Waktu    Komposisi
Sarapan ( 08.00 )

Makan siang ( 14. 00 )
Makan malam ( 19. 30 )    Roti/ kue
Susu / Teh
Nasi ,ikan, kadang – kadang sayur
Nasi, ikan, dan sayur

8)    Identifikasi Agama
a)    Agama keluarga
Agama keluarga Tn. A beragama islam.
b)    Adakah perbedaan anggota keluarga dalam keyakinan agama dan prakteknya.
Tidak ada perbedaan agama dalam keluarga dan prakteknya.
c)    Berapa aktif keluarga menjalankan ibadah
Keluarga jarang menjalankan ibadah dirumah, seperti sholat lima waktu.
d)    Apakah ibadah keagamaan dilakukan oleh keluarga
Keluarga cukup berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan dimasyarakat.
e)    Apakah agama dijadikan sebagai dasar keyakinan atau nilai yang mempengaruhi kehidupan keluarga?
Keluarga cukup yakin dengan agama mempengaruhi kehidupan keluarga.

9)    Status Sosial Ekonomi Keluarga
Tn.A sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah bekerja sebagai wiraswasta dengan penghasilan sebulan kira- kira Rp. 700.000.
10)     Rekreasi Keluarga
Tn.A mengatakan tidak pernah berekreasi dan keluarga tidak pernah pergi ke tempat hiburan atau ke tempat rekreasi, Jika ada waktu luang keluarga biasanya berkunjung ke rumah orang tua atau tidak menonton TV di rumah.
e.    Riwayat Kesehatan Keluarga
1.    Riwayat kesehatan keluarga 6 bulan terakhir
Ny.S mengatakan usianya saat ini 22 tahun dan sedang hamil 5 bulan.Ny.S mengatakan baru 1  kali memeriksakan kehamilannya ke puskesmas terdekat. Ny.S mengatakan saat memeriksakan kehamilannya dianjurkan untuk makan sayur-sayuran serta lauk-pauk selama kehamilannya namun tidak semua anjuran itu bisa di penuhi oleh Ny.S karena persoalan ekonomi keluarga yang cukup sulit.padahal menurut anjuran bidan, Ny.S Harus banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi karena Ny S menderita anemia. Ny.S hanya mengkonsumsi vitamin penambah darah yang di dapatnya dari puskesmas namun setelah vitamin itu habis Ny.S sudah tidak mengkonsumsinya lagi.
2.    Pemeriksaan fisik
No    Pem. Fisik                Anggota keluarga
        Tn. A    Ny. S
1.




    Kepala
-    Rambut


-    Mata  
Bersih, tidak ada ketombe, tidak
rontok .
Konjuntivaan
anemis, sclera an
anikterik.  
Bersih, tidak ada ketombe, mudah
rontok .
Konjungtiva
anemis, sclera.
Ikterik.
2.
    Hidung    Tidak ada secret
dan polip.    Tidak ada secret
dan polip.
3.
    Telinga
    Tidak ada
Serumen    Tidak terdapat
serumen.
4.    Mulut dan
gigi
    Bersih, lidak ada
stomatitis dan
gigi lengkap    Bersih, tidak ada
stomatitis, gigi
lengkap.
5.

    Leher    Tidak ada
pembesaran
kelenjar tyroid    Tidak ada
pembesaran
kelenjar tyroid.
6.    Tonsil
    Tidak ada
Pembengkakan.    Tidak ada pembengkakan.
7.

    Dada
- Jantung
- Paru  
S I dan S II
Suara nafas
Vesikuler.  
S 1 dan S II
Suara nafas
Vesikuler

    -Bentuk
    Sitnetris kanan
dan kiri    Simetris kanan
dan kiri
8.
    Abdomen
-Peristaltik
usus
-Aciles

-Turgor

  
12x/menit

Tidak ada acites

Elastis, tidak ada
nyeri tekan dan
lepas.  
12x/menit

Tidak ada Acites

Elastis, tidak ada
nyeri tekan dan
lepas.
9.




    Ekstremitas
-Gerakan


-CRT
-Edema  
Dapat digerakkan
atas dan bawah
< 3 detik
Tidak ada edema
  
Dapat digerakkan
alas dan bawah

> 3 detik
Tidak ada edema
10.    Tanda-tanda Vital:
-Tekanan darah
-Nadi
-Suhu
-Pernafasan
-BB  
12 0/80 Mmhg
82x/menit
37 ° C
25x/menit
65 Kg  
100/80 Mmhg
70x/menit
36,5° C
24x/menit
49 Kg

f.    Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
1.    Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga Tn. A berada pada tahap perkembangan keluarga, ini ditandai oleh istri Tn. A yang sedang Hamil 5 bulan.
2.    Tugas perkembangan yang belum terpenuhi
Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi adalah tahap keluarga memiliki anak karena saat ini Ny S baru mengandung anak pertama mereka.
3.    Riwayat keluarga inti
Tn. A mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit keturunan ataupun penyakit menular seperti kencing manis, TBC, jantung, hepatitis, hipertensi. Apabila anggota keluarga sakit, keluarga biasanya hanya membeli obat di apotik terdekat.
4.    Riwayat keluarga sebelumnya
Tn. A mengatakan, keluarga Tn. A ataupun Ny. S tidak mempunyai riwayat penyakit yang berbahaya seperti kencing manis, TBC, Jantung, hipertensi, hepatitis.
g.    Lingkungan
1.    Karakteristik rumah.
Rumah yang di tempati Tn.A dan istrinya adalah milik pribadi. Kondisi rumah  permanen dengan lantai yang disemen, luas rumah ± 6x5 meter2 dan terdiri dari lima ruangan yaitu; teras,ruang tamu, 1 kamar tidur ,dapur dan kamar mandi. Dinding rumah terbuat dari papan. Rumah tidak mempunyai ventilasi yang cukup sehingga cahaya tidak bebas masuk ke dalam rumah. , penempatan barang-barang agak tidak teratur, sumber air minum keluarga berasal dari ledeng.  rumah Tn.A cukup rapat dengan rumah tetangga,dengan kondisi yang cukup bising.suara musik dari rumah tetangga sangat jelas terdengar di rumah Tn.A. Menurut Ny.S Karena kondisi rumah yang demikian dia susah untuk beristirahat, di tambah lagi kondisi kamar yang panas dan pengap.
Tabel 1.6 Denah rumah :






Keterangan:
1.    Dapur
2.    Kamar tidur
3.    Ruang tamu
4.    Kamar tidur
2.    Karakteristik tetangga dan komunitas
Tn. A mengatakan bahwa hubungan keluarganya dengan masyarakat lainnya cukup harmonis, dalam melakukan suatu kegiatan dilakukan dengan gotong royong, jarak rumah dengan tetangga cukup dekat, disini tidak ada budaya setempat yang mempengaruhi kesehatan.
3.    Mobilitas geografis keluarga.
Tn. A mengatakan keluarganya sudah tinggal di rumahnya yang sekarang sejak setahun yang lalu .
4.    Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat.
Tn. A mengatakan sering berkumpul dan berinteraksi dengan istrinya pada malam hari setelah makan malam sambil menonton TV. Karena pada siang hari Tn A Menggunakan waktunya untuk bekerja.Tn A juga mengatakan  Dalam keluarga tidak  masalah serta konflik dalam berinteraksi.
h.    Struktur Keluarga
1.    Pola dan proses komunikasi keluarga
Tn. A mengatakan bahwa  dia dan istrinya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tolaki. Komunikasi berlangsung dengan baik dan keluarga menyelesaikan masalah dengan membicarakan terlebih dahulu.
2.    Struktur Kekuatan Keluarga.
Tn. A sebagai kepala keluarga adalah pembuat keputusan namun apanila ada masalah tetap selalu membahasnya terlebih dahulu dengan sang istri.
3.    Struktur Peran
Tn. A mempunyai peran dalam rumah tangga sebagai pencari nafkah dan istrinya Ny S Sebagai ibu rumah tangga.
i.    Fungsi Keluarga
1.    Fungsi Afektif
    Respon kebutuhan keluarga : Ny S Mempunyai kebutuhan sendiri dan sedapat mungkin KK Memenuhinya.meskipun hanya di batasi pada kebutuhan primer saja karena keterbatasan penghasilan Tn A
    Saling memperhatikan : Tn A Cukup memperhatikan istrinya meskipun Tn A lebih sering berada di luar rumah.
    Keterpisahan dan keterikatan : keluarga jarang terpisah, hanya pada saat Tn A bekerja di luar.
2.    Fungsi Sosial
Tn. A mengatakan bahwa hubungannya dengan keluarga baik, norma budaya dan perilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di keluarga dan yang berlaku di masyarakat.
3.    Fungsi Ekonomi
Tn. A” mengatakan penghasilan yang didapat hanya mencukupi kebutuhan makan sehari-hari, setiap bulannya keluarga harus membayar iuran listrik, PAM dan kebutuhan – kebutuhan yang lain. Setiap harinya keluarga hanya mampu menyajikan makanan seadanya seperti : nasi putih, tahu, tempe, ikan, kadang-kadang pakai sayur. Namun meskipun demikian tidak mengurangi kebahagiaan dalam keluarga Tn A. Menurut keluarga masalah ekonomi tidak menjadikan masalah dalam keluarga mereka.
4.    Fungsi Reproduktif
Ny.S mengatakan blum pernah menggunakan KB.karena keluarga juga tidak berencana menunda punya  anak. setelah setahun menikah Ny S  barulah  mengandung anak pertama.
5.    Fungsi Pemeliharaan Kesehatan
Ny.S mengatakan jarang ke puskesmas.untuk mengontrol kandungannyan saja dia baru melakukan kunjungan 1x .menurut Ny S Kendalanya karena mereka tidak memiliki JAMKESMAS. Biasanya kalau keluarga sakit mereka lebih memilih membeli obat di warung atau apotik.
6.    Fungsi perawatan Keluarga
a.    Kemampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan
Masalah-masalah kesehatan yang ada di dalam keluarga Tn. A yaitu: BUMIL dengan anemia.
Ny. S mengatakan tidak begitu mengetahui mengapa orang hamil harus memperbanyak makanan yang mengandung zat besi seperti sayur – sayuran.dia juga tidak tahu bahaya untuk diri dan kandungannya jika anemianya tidak segera di atasi.
b.    Kemampuan keluarga mengambil keputusan
Keluarga mengatakan dengan adanya masalah-masalah kesehatan tersebut, yaitu:, bumil dengan di sertai anemia  tidak begitu dipikirkan karena keluarga menganggap masalah tersebut bukanlah masalah yang serius selain itu apabila harus berobat ke dokterpun keluarga tidak mampu . Ny S  mengatakan tidak terlalu mengkhawatirkan  kondisinya saat ini.Karena menurutnya hal demikian di alami pada semua ibu hamil.
c.    Kemampuan keluarga untuk merawat anggota keluarga yang sakit
Tn. A mengatakan tidak menganggap Kondisi istrinya serius namun jika telah memilik uang Tn A ingin segera membawa istrinya ke dokter.
d.    Kemampuan keluarga memelihara lingkungan
Keluarga mengatakan tidak mengetahui pentingnya ventilasi dan penyinaran matahari bagi kesehatan lingkungan rumahnya. Keluarga mengatakan setiap hari membersihkan rumah tetapi tetap kotor dan udaranya tetap pengap. Keluarga mengatakan kondisi rumah tidak terlalu dipikirkan karena memang kondisinya seperti itu.
e.    Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan
Keluarga mengatakan jarang menggunakan fasilitas kesehatan . keluarga lebih sering memilih membeli obat di warung atau apotik jika ada anggota keluarga yang sakit. Fasilitas kesehatan yang ada dapat terjangkau oleh keluarga bila keluarga memiliki uang.
j.    Masalah Kesehatan Spesifik
     Kesehatan ibu dan anak
a.    Ibu hamil
Riwayat kehamilan NY. S G1 PO AO, (kebamilan pertama, partus belum pernah dan abortus tidak pernah). Usia kehamilan saat ini 5 bulan, Ny. S mulai hamil setelah 1 tahun usia perkawinan mereka. Ny. S mangatakan baru 1 kali rnemeriksakan kehamilanya ke bidan dan sudah mendapat imunisasi TT se-kali, penambahan BB ± 4 kg dan pada waktu memeriksakan kehamilanya ke bidan pernah mendapat vitamin penambah darah yang menurut anjuran bidan harus diminum sehari sekali namun sekarang obatnya telah habis.
Ny.S  mengatakan  tidak mengetahui  tentang  bagaiman  perawatan kehamilannya, ia mengatakan kadang-kadanga perutnya terasa sakit namun tanpa  diobati  sakitnya  dapat hilang  sendiri  dan kadang-kadang Ny.  S mengeluh pusing.
1)    Inspeksi muka:
a)    Tidak ditemukan chloasma gravidarum, konjungtiva anemis, tidak ada oedema pada muka.
b)    Dada ( buah dada tegangang dan membesar) terlihat pigmentasi pada puting susu, keadaan putting susu tenggelam dan colostrums belum keluar.
c)    Pada tungkai tidak ditemukan farises maupun udema.
2)    Palapasi abdomen:
a)    Leopold I
TFU setinggi pusat usia janin 20 minggu (lima bulan), pada fundus teraba keras, bulat dan lunak (bokong).
b)    Leopold II
Punggung janin terletak di bagiart perut kanan dan bagian keci-kecil (ekstremitas), teraba pada perut sebelah kiri.
c)    Leopold III
Teraba bulat, melenting dan keras (kepala) dan bagian terbawah masih dapat digoyang-goyangkan.
d)    Leopold IV
Kepala janin belurn masuk PAP.
m.    Stres  Jangka  Panjang dan Jangka Pendek
Tn.A mengatakan masalah dalam keluarganya yang sampai saat ini masih dirasakan adalah masalah ekonomi. Ny.S mengatakan penghasilan di keluarganya hanya pas-pasan bahkan kadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.untuk biaya persalinan nantinya keluarga tidak begitu memikrkan karena orang tua dari Ny.S Sudah bersedia membantu mereka.
Ny.S mengatakan agak merasa terbebani dengan perubahan yang dialaminya, perutnya yang mulai membesar membatasi hampir semua aktivitasnya, pengalaman hamil pertama dan akan menjadi ibu kadang – kadang menjadi beban pikirannya.
n.    Koping
Ny.S dan keluarga mengatakan hanya bisa Bersabar dan tetap barusaha dengan adanya masalah-masalah yang ada di dalam keluarganya mereka.
o.    Harapan Keluarga
Tn.S berharap semoga keadaan istri dan calon bayinya baik-baik saja Keluarga Tn.S juga berharap terhadap petugas kesehatan agar dapat membantu keluarga yang tidak mampu dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.(pengobatan).
ANALISA DATA
DATA    MASALAH KESEHATAN    MASALAH KEPERAWATAN
DS :
•    Ny.S mengatakan sering pusing
•    Ny.S mengatakan jarang mengkonsumsi makanan bergizi seperti sayur-sayuran.
•    Ny.S mengatakan pernah di beri obat penambah darah oleh bidan saat kunjungannya di puskesmas namun sekarang obat tersebut telah habis
DO :
•    Konjungtiva anemis
•    TTV :
TD  : 100/ 80
N    :  70x/ menit
R    : 24x/ menit
S    : 36,5 ° C.  
Ibu hamil dengan anemia  
Anemia Ny.S pada keluarga Tn.A  berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kebutuhan  untuk BUMIL
DS :
•    Ny.S mengatakan banyak perubahan yang terjadi pada dirinya semenjak hamil. Dan agak mengalami kesulitan menyesuaiakan diri dengan kondisinya sekarang
•    Ny.S mengatakan ini kehamilan pertama dan sekaligus pengalaman pertama,
DO :
•    Berat badan Ny.S  bertambah dari 46 menjadi 50.
•    Perut Ny.S tampak membuncit.
•    Payudara membesar.  
Gangguan konsep diri  
Gangguan konsep diri Ny.S pada keluarga Tn.A berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah perubahan fisiologis kehamilan.
DS :
•    Ny.S mengatakan susah tidur karena kondisi kamarnya yang sempit dan pengap ditambah lagi adanya kebisingan di sekitar lingkungan.
•    Ny.S mengatakan tetangga rumahnya sering sekali karaokean.
DO :
•    Ny.S tampak lemas dan lesu
•    Kantung mata Ny.S tampak cekung  
Gangguan pemenuhan istrahat tidur.  
Gangguan pemenuhan istrahat tidur Ny.S pada keluarga Tn. A  berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan
DS:
•    Ny.S mengatakan jarang mengkonsumsi makanan yang bergizi  dan sudah tidak minum vitamin yang berguna untuk perkembangan janinnya.
•    Ny.S mengatakan harusnya dia sudah memeriksakan kembali kandungannya namun sampai saat ini dia belum juga ke puskesmas setelah kunjungan pertamanya.
Do :
•    Hasil pemeriksaan Lab menunjukan HB turun   
Resiko  gangguan perkembangan janin  
Resiko gangguan perkembangan janin Ny.S pada Tn.A berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat.




SKORING
1.    Anemia Ny.S pada keluarga Tn.A  berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kubutuhan untuk BUMIL.
Kriteria    Skor    Perhitungan    Pembenaran
1.    Sifat masalah ;
tidak sehat


2.    Kemungkinan masalah dapat diubah ;
dengan mudah


3.    Potensi masalah untuk diubah ;
cukup



4.    Menonjolnya masalah ;
Ada masalah tapi tidak perlu segera di tangani
    1



2





1






1




    3/3 x 1



2/2 x 2





2/3 x 1






1/2 x 1


     Terlihat Ny.S dalam kondisi lemas dan tampak pucat.
Untuk pemenuhan nutrisi BUMIL tidak selalu membutuhkan biaya mahal.
BUMIL bisa mendapatkan makanan yang mengandung zat besi dengan mengkonsumsi sayur – sayuran hijau.
Keluarga merasakan ada masalah tetapi tidak membutuhkan penanganan segera
Total skor        4,1  

2.    Gangguan konsep diri Ny.S pada keluarga Tn.A berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah perubahan fisiologis kehamilan
Kriteria    Skor    Perhitungan    Pembenaran
1.    Sifat masalah ;
ancaman kesehatan

2.    Kemungkinan masalah dapat diubah ;
mudah


3.    Potensi masalah untuk diubah ;
Cukup


4.    Menonjolnya masalah ;
Ada masalah tetapi tidak perlu segera di tangani.    1




2





1





1    2/3 x 1




2/2 x 2





2/3 x 1





1/2 x 1     Perubahan kondisi selama hamil membuat BUMIL tidak nyaman.
BUMIL bisa memahami dengan mudah jika mendapat penjelasan yang tepat.
Ny.S mau mendengarkan penjelasan – penjelasan yang di berikan padanya.
Seiring waktu BUMIL mulai menerima perubahan kondisinya.

Total skor        3,7  

3.    Gangguan pemenuhan istrahat tidur Ny.S pada keluarga Tn.A berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan.
Kriteria    Skor    Perhitungan    Pembenaran
1.    Sifat masalah:
Ancaman kesehatan.


2.    Kemungkinan masalah dapat diubah:
Hanya sebagian.







3.    Potensi masalah untuk diubah:
Cukup.
4.    Menonjolnya masalah:
Ada masalah tapi tidak perlu segera di tangani.    1



2










1


1    2/3 x 1



2/2 x 2










2/3 x 1


1/2 x 1
    Membuat kondisi BUMIL semakin lemah.

Gangguan tidur pada BUMIL bukan hanya karena kebisingan lingkungan sekitar tapi juga karena kondisi kamar yang panas dan pengap.
Bisa dengan menambahkan ventilasi kamar
Masalah kondisi kamar tidak mungkin secara langsung bisa di rubah.
Total skor        3,7  



4.    Resiko gangguan perkembangan janin Ny.S pada keluarga Tn.A berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat.
Kriteria    Skor    Perhitungan    Pembenaran
1.    Sifat masalah:
ancaman kesehatan.

2.    Kemungkinan masalah dapat diubah: hanya sebagian.
3.    Potensi masalah untuk diubah: rendah.






4.    Menonjolnya masalah:
Masalah tidak di rasakan.
    1



2



1








1    2/3 x 1



1/2 x 2



1/3 x 1








0/2 x 1


     Masalah akan muncul jika tidak segera ditangani.
Keterbatasan ekonomi dan pengetahuan.

Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas dan kurangnya pengetahuan ibu tentang nutrisi untuk perkembangan janin.
Keluarga belum merasakan bahwa keadaan itu menjadi masalah.
Total skor        1,4  

PRIORITAS MASALAH KEPERAWATAN PADA KELUARGA Tn.A

1.    Anemia Ny.S pada keluarga Tn.A  berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kubutuhan untuk BUMIL.
2.    Gangguan pemenuhan istrahat tidur Ny.S pada keluarga Tn.A berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan.
3.    Gangguan konsep diri Ny.S pada keluarga Tn.A berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah perubahan fisiologis kehamilan.
4.    Resiko gangguan perkembangan janin Ny.S pada keluarga Tn.A berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat.


FORMAT PERENCANAAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
NO    DIAGNOSA KEPERAWATAN
KELUARGA    TUJUAN    KRITERIA EVALUASI    RENCANA INTERVENSI   
        UMUM    KHUSUS    KRITERIA    STANDAR        Rasional
1.


















































2.

































3.













































4.











































    Anemia Ny S pada keluarga Tn. A  berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kubutuhan untuk BUMIL









































Gangguan pemenuhan istrahat tidur Ny S berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan

























Gangguan konsep diri Ny. S pada keluarga Tn A berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah perubahan fisiologis kehamilan


































Resiko gangguan perkembangan janin Ny S pada keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat.









    Setelah di lakukan intervensi masalah anemia pada Ny S bisa teratasi












































Setelah dilakukan intervensi keperawatan gangguan istrahat tidur bisa teratasi


























Setelah di lakukan intervensi keperawatan masalah gangguan konsep diri pada Ny S dapat teratasi




































Setelah dilakukan intervensi keperawatan resiko gangguan perkembangan janin bisa di cegah    Setelah di lakukan pertemuan untuk melakukan intervensi keluarga di harapkan mampu :


1.    Mengenal masalah bahaya anemia.













2.    Mengetahui makanan – makanan yang mengandung zat besi
3.    Mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi masalah anemia.


















Setelah dilakukan pertemuan, keluarga mampu :
1.    Mengenal masalah yang menjadi penyebab gangguan tidur pada BUMIL.




2.    Mengetahui  masalah jika BUMIL kurang istrahat.

3.    Mampu mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi masalah











Setelah dilakukan pertemuan,keluarga mampu :

1.    Mengenal masalah – masalah yang bisa muncul pada  kehamilan



2.    Mengetahui perubahan – perubahan fisiologi pada kehamilan.














3.    Mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi gangguan konsep diri pada BUMIL.








Setelah dilakukan pertemuan keluarga mampu :

1.    Mengenal masalah resiko gangguan perkembangan janin
2.    Mengenal hal-hal yang bisa memperberat resiko.


3.    Mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi masalah













   






Verbal















Verbal






























Verbal








Verbal





verbal



















Verbal







Verbal 


















Verbal














verbal














   






-    Menjelaskan secara sederhana tentang anemia
-    Menyebutkan bahaya yang mungkin timbul pada BUMIL akibat anemia yang tidak teratasi.
-    Menjelaskan pentingnya makanan bergizi untuk BUMIL.
-    Menyebutkan contoh- contoh makanan yang mengandung zat besi.
-    Menyebutkan contoh  sayur- sayuran yang mengandung zat besi yang bisa didapatkan dengan harga terjangkau.


















-    Menjelaskan secara sederhana penyebab gangguan tidur.



-    Menyebutkan akibat jika BUMIL  kurang istirahat.

-    Menyebutkan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah.















-menjelaskan masalah- masalah yang bisa muncul pada kehamilan



-    Menjelaskan perubahan pada ibu hamil merupakan keadaan yang normal.
-    Menjelaskan proses perubahan fisiologi pada BUMIL.
-    Menyebutkan beberapa perubahan – perubahan pada tubuhnya selama kehamilan.
-    Menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi merupakan sesuatu yang normal








-    Menjelaskan tentang resiko gangguan perkembangan janin.
-    Menyebutkan faktor-faktor yang bisa memperberat resiko

-    Menyebutkan cara yang tepat untuk mencegah terjadinya resiko gangguan perkembangan janin





   






1.    Kaji pengetahuan keluarga tentang anemia.


2.    Jelaskan pada keluarga tentang bahaya anemia pada BUMIL.
3.    Jelaskan pada keluarga contoh – contoh makanan yang mengandung zat besi dengan harga terjangkau.
4.    Anjurkan pada keluarga khususnya BUMIL untuk terus mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi.

5.    Anjurkan ibu untuk meminta vitamin penambah darah di puskesmas



1.    Kaji pengetahuan keluarga tentang pemenuhan istrahat tidur

2.    Jelaskan pentingnya istrahat yang cukup pada BUMIL.
3.    Jelaskann akibat yang bisa timbul dari istrahat yang kurang.

4.    Anjurkan pada keluarga untuk memodifikasi ulang kamar tidur

5.    Anjurkan pada BUMIL untuk istrahat yang cukup




1.    Jelaskan perubahan yang terjadi pada BUMIL adalah proses yang normal.

2.    Anjurkan BUMIL untuk memakai pakaian yang longgar dan tipis untuk menunjang kenyamanan.
3.    Beri pemahaman/penjelasan agar BUMIL bisa menerima perubahan yang terjadi pada tubuhnya

4.     Jelaskan dampak yang bisa timbul jika BUMIL merasa terus terganggu dengan perubahan yang terjadi





1.    Kaji pengetahuan keluarga tentang resiko gangguan perkembangan janin
2.    Beri pemahaman keluarga tentang resiko perkembangan janin pada kehamilan yang bermasalah



3.    Jelaskan hal- hal yang bisa memperberat resiko pada kehamilan



4.    Beri pemahaman pada keluarga cara mencegah resiko gangguan perkembangan janin

5.    Anjurkan keluarga membawa BUMIL ke puskesmas untuk memeriksakan kehamilannya   






1.    Untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan keluarga tentang anemia.
2.    Untuk member pemahama n pada keluarga tentang bahaya anemia pada BUMIL.

3.    Keluarga dapat mengetahui contoh – contoh makanan yang mengandung zat besi dengan harga yang bisa dijangkaunya.


4.    Untuk tetap memenuhi zat besi pada BUMIL.







5.    Vitamin penambah darah sangat penting untuk BUMIL





1.    Untuk mengukur pengetahuan keluarga tentang istrahat tidur


2.    Keluarga dapat mengetahui pentingnya istrahat bagi BUMIL.

3.    Member pemahaman pada keluarga akibat yang timbul dari kurang istrahat
4.    Kondisi kamar yang baik n tidak pengap dapat membantu pemenuhan kebutuhan istraht tidur pada BUMIL
5.    Istrahat yang cukup baik untuk ibu dan bayinya.




1.    Untuk member pemahaman pada keluarga dan BUMIL





2.    Untuk memberi kenyamanan pada BUMIL selama kehamilan



3.    Agar BUMIL mau menerima kondisinya dan memandangny
a sebagai
 sesuatu yang normal




4.    Keluarga dan BUMIL mengetahui dampak yang bisa timbul









1.    Untuk mengukur sejauh mana pengetahuan keluarga tentang resiko gangguan perkembangan janin
2.    Untuk member pengetahuan kepada keluarga tentang resiko perkembangan janin pada kehamilan yang bermasalah.

3.     Memberikan pemahaman  kepada keluarga tentang hal- hal yang bisa memperberat resiko pada kehamilan
4.    Untuk mencegah agar dresiko gangguan lperkembangan janin tidak terjadi


5.    Untuk mengetahui perkembangan  janin dalam kandungannya.











Implementasi 
1.    Anemia Ny S pada keluarga Tn. A  berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kubutuhan untuk BUMIL

Hari/ tanggal   
Implementasi   
Evaluasi
Sabtu , 26- 11- 2011

Jam 08. 00 WITA


















    1.    mengkaji pengetahuan keluarga tentang anemia.
2.    menjelaskan pada keluarga tentang bahaya anemia pada BUMIL.
3.    menjelaskan pada keluarga contoh – contoh makanan yang mengandung zat besi dengan harga terjangkau.
4.    menganjurkan pada keluarga khususnya BUMIL untuk terus mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi
5.    Menganjurkan ibu untuk meminta vitamin penambah darah di puskesmas
    Sabtu , 3 - 12 - 2011
Jam 08.00 WITA
S : BUMIL mengatakan mulai mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti sayur- sayuran hijau yang bisa dijangkau dengan harga murah

O : kondisi BUMIL tampak terlihat sehat dan tidak pucat

A : masalah belum teratasi

P : intervensi dilanjutkan ( intervensi 4 dan 5 )











2.    Gangguan pemenuhan istrahat tidur Ny S berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan


Hari/ tanggal   
Implementasi   
Evaluasi

Sabtu , 26- 11- 2011
Jam 10. 00 WITA







   
1.    Mengkaji pengetahuan keluarga tentang pemenuhan istrahat tidur
2.    Menjelaskan pentingnya istrahat yang cukup pada BUMIL.
3.    Menjelaskann akibat yang bisa timbul dari istrahat yang kurang.
4.    Menganjurkan pada keluarga untuk memodifikasi ulang kamar tidur
5.    Menganjurkan pada BUMIL untuk istrahat yang cukup
   
Sabtu , 3 - 12- 2011
Jam 09. 00 WITA

S : ibu mengatakan sudah bisa istrahat/ tidur dengan cukup
O : BUMIL tampak terlihat segar
A : masalah teratasi
P : intervensi dipertahankan ( 5 )

3.    Gangguan konsep diri Ny. S pada keluarga Tn A berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah perubahan fisiologis kehamilan

Hari/ tanggal   
Implementasi   
Evaluasi

Sabtu , 26- 11- 2011
Jam 12. 00 WITA









   
1.    Menjelaskan perubahan yang terjadi pada BUMIL adalah proses yang normal.
2.    Menganjurkan BUMIL untuk memakai pakaian yang longgar dan tipis untuk menunjang kenyamanan.
3.    Memberi pemahaman/penjelasan agar BUMIL bisa menerima perubahan yang terjadi pada tubuhnya
4.     Menjelaskan dampak yang bisa timbul jika BUMIL merasa terus terganggu dengan perubahan yang terjadi
   
Sabtu , 3 - 12- 2011
Jam 10. 00 WITA

S : BUMIL mengatakan sudah merasa terbiasa dengan perubahan kondisinya.
O : BUMIL terlihat tampak santai
A : masalah teratasi

P : intervensi dihentikan











4.    Resiko gangguan perkembangan janin Ny S pada keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat.

Hari/ tanggal   
Implementasi   
Evaluasi

Sabtu , 26- 11- 2011
Jam 13. 00 WITA














   
1.    Mengkaji pengetahuan keluarga tentang resiko gangguan perkembangan janin
2.    Memberi pemahaman keluarga tentang resiko perkembangan janin pada kehamilan yang bermasalah
3.    Menjelaskan hal- hal yang bisa memperberat resiko pada kehamilan
4.    Memberi pemahaman pada keluarga cara mencegah resiko gangguan perkembangan janin
5.    Menganjurkan keluarga membawa BUMIL ke puskesmas untuk memeriksakan kehamilannya   
Sabtu , 3 - 12- 2011
Jam 10. 00 WITA

S : BUMIL mengatakan memahami dan mulai mengatasi ancaman yang dapat menjadi resiko gangguan perkembangan pada janinya.
O : BUMIL mulai memperhatikan pemeriksaan kandungannya ke puskesmas.

A :  masalah teratasi
P : intervensi dipertahankan ( 5 )