Minggu, 15 Januari 2012

ASUHAN KEPERAWATAN ALZHEIMER

 
LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP MEDIS

  1. Defenisi
Penyakit Alzheimer merupakan penyakit dengan onset yang lambat dan gradual. Pertama kali menyerang bagian otak yang mengontrol memori dan selanjutnya bagian otak lain yang mengatur fungsi intelektual, emosional dan tingkah laku, sehingga seringkali disertai sindrom-sindrom perilaku seperti psikosis, agitasi dan depresi.

Penyakit Alzheimer ini biasanya timbul antara umur 50 dan 60 tahun. Terdapat degenerasi korteks yang difus pada otak di lapisan-lapisa luar terutama di daerah frontal dan temporal. Atropi ini dapat dilihat pada pneumo-ensefalogram dimana tampak sisterna ventrikel membesar serta banyak hawa di ruang subarakhnoid (giri mengecil dan sulkus-sulkus melebar).
B.   Etiologi
Otak merupakan organ yang sangat kompleks. Di otak terdapat area-area yang mengurus fungsi tertentu, misalnya bagian depan berkaitan dengan fungsi luhur seperti daya ingat, proses berpikir dsb, otak bagian belakang berkaitan dengan fungsi penglihatan dan sebagainya.

Dari hasil riset yang dilakukan, diketahui bahwa pada Penyakit Alzheimer terjadi kehilangan sel saraf di otak di area yang berkaitan dengan fungsi daya ingat, kemampuan berpikir serta kemampuan mental lainnya. Keadaan ini diperburuk dengan penurunan zat neurotransmiter, yang berfungsi untuk menyampaikan sinyal antara satu sel otak ke sel otak yang lain. Kondisi abnormal tersebut menjadi penyebab mengapa pada penyakit Alzheimer fungsi otak untuk berpikir dan mengingat mengalami kemacetan.

  1. Manifestasi klinis

1.    Lupa kejadian yang baru dialami. Lupa akan nama teman, nomor telepon rekan bisnis dan pekerjaan adalah hal yang biasa terjadi, masih dapat dikatakan normal karena biasanya kita masih dapat mengingatnya lagi beberapa saat kemudian. Orang dengan kepikunan / demensia mengalami kelupaan yang sangat sering sehingga mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari, dan mereka tidak dapat mengingat kembali kejadian yang baru dialaminya sekalipun telah dicoba mengingatkan kembali.
2.    Kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari. Seseorang yang penuh kesibukan bisa saja meninggalkan dapur dalam keadaan berantakan dan baru ingat untuk menghidangkan dan merapikannya setelah hampir selesai makan. Seseorang dengan demensia Alzheimer mungkin dapat menyiapkan makanan di dapur tetapi kemudian bukan hanya tidak ingat untuk menghidangkannya di meja makan bahkan ia juga lupa bahwa ia telah memasak makanan didapur.
3.    Kesulitan dalam berbahasa. Kadang-kadang seseorang mengalami kesulitan untuk mencari kata yang tepat untuk berbicara, tetapi orang dengan penyakit Alzheimer dapat lupa kata-kata yang sederhana atau menggantikannya dengan kata yang tidak sesuai, sehingga kalimat yang diucapkannya tidak dapat dimengerti.
4.    Disorientasi waktu dan tempat. Lupa nama hari atau tempat tujuan untuk sesaat masih termasuk normal. Akan tetapi jika terjadi lupa tempat dimana ia berada, tersesat di jalan yang biasa dikenalnya, tidak tahu bagaimana ia sampai di tempat tsb dan tidak bisa mencari jalan pulang ke rumahnya sendiri maka hal ini menunjukkan gejala penyakit Alzheimer.
5.    Tidak mampu membuat keputusan. Seorang ibu dapat terlarut, asyik dan tenggelam dalam aktivitasnya sementara waktu sampai lupa memperhatikan anak-anaknya. Tetapi orang dengan Alzheimer akan lupa sama sekali bahwa ia tengah menjaga anak-anaknya. Bisa jadi iapun berpakaian tidak sebagaimana mestinya, misalnya memakai baju berlapis-lapis atau pergi ke kantor dengan pakaian tidur.
6.    Kesulitan berpikir abstrak. Penderita Alzheimer akan mengalami kesulitan dalam hitung menghitung, kalimat majemuk dan peribahasa maupun pemahaman konsep.
7.    Salah menaruh barang-barang. Setiap orang bisa saja lupa dimana menaruh kunci atau dompet. Seseorang dengan penyakit Alzheimer mungkin dapat meletakkan benda-benda di tempat yang tidak seharusnya misalnya seterika ditaruh di dalam kulkas, atau arloji diletakkan di dalam panci.
8.    Perubahan suasana perasaan dan perilaku. Setiap orang bisa merasa sedih dan murung dari waktu ke waktu. Seorang penderita Alzheimer dapat memperlihatkan perubahan suasana perasaaan dalam waktu singkat, dari tenang-tenang tiba-tiba menjadi menangis atau marah tanpa suatu alasan yang jelas.
9.    Perubahan kepribadian. Meskipun usia dapat berpengaruh terhadap perubahan kepribadian, namun seseorang dengan penyakit Alzheimer menunjukkan perubahan kepribadian yang drastis, misalnya menjadi pencuriga, penakut atau mudah bimbang dan kebingungan.
10. Kehilangan inisiatif. Merasa lelah terhadap pekerjaan rumah tangga, aktivitas bisnis atau kegiatan sosial lainnya adalah normal bila setelah beberapa waktu mempunyai minat kembali. Seseorang dengan Alzheimer dapat menjadi sangat pasif dan apatis sehingga diperlukan usaha keras dan untuk menarik minatnya agar mau ikut beraktivitas.

Gejala klinis yang berkaitan dengan defisit kognitif multipel antara lain :
a. Gangguan memori, termasuk ketidakmampuan untuk mempelajari informasi yang baru atau me-recall informasi yang telah dipelajari sebelumnya.

b. Gangguan berbahasa (aphasia).
c. Gangguan dalam kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik meskipun fungsi organ motorik masih utuh (apraxia).
d. Gangguan dalam mengenali objek, meskipun fungsi organ sensorik masih utuh. (agnosia).
e. Gangguan dalam kemampuan untuk merencanakan, mengorganisasikan, berpikir sekuensial dan abstrak (gangguan fungsi eksekutif).
D. pembagian Alzheimer
Dalam perjalanannya, penyakit Alzheimer dapat dibagi dalam 3 fase meliputi :

Fase awal (Ringan).
Pada tahap ini pasien mulai mengalami kehilangan memori maupun fungsi kognitif lainnya, tapi pasien masih dapat mengkompensasinya dan masih dapat berfungsi secara normal dan independen dengan sedikit pertolongan. Sikap apati dan kecenderungan menarik diri yang merupakan gambaran di semua fase, mulai timbul di fase ini. Ciri-cirinya :
a. Gangguan Kognitif dan memori :
• Bingung, lupa nama dan kata-kata dan menghindar berbicara untuk mencegah kesalahan.
• Mengulang pertanyaan dan kalimat.
• Lupa kisah hidup mereka sendiri dan peristiwa yang baru terjadi.
• Kurang mampu untuk mengorganisasikan dan merencanakan sesuatu serta untuk berpikir logik.
• Menarik diri dari lingkungan sosial dan tantangan-tantangan mental.
• Disorientasi waktu dan tempat ; dapat tersesat di tempat-tempat yang familiar.
b. Gangguan berkomunikasi mulai timbul :
• Mulai mengalami kesulitan dalam mengekspresikan diri mereka sendiri.
• Kadang tidak mampu untuk berbicara dengan benar meski masih dapat berespon dan bereaksi terhadap apa yang dikatakan kepada mereka ataupun terhadap humor yang dilontarkan.
• Mengalami kesulitan untuk memahami bahan bacaan
c. Perubahan kepribadian mulai timbul :
• Apatis, menarik diri dan menghindari orang lain.
• Cemas, agitasi dan iritabel.
• Tidak sensitif terhadap perasaan orang lain
• Gampang marah terhadap hal-hal yang mendatangkan frustasi, rasa lelah, ataupun kejutan.
d. Perilaku yang aneh mulai timbul :
• Mencari dan menimbun benda-benda yang tidak berharga.
• Lupa makan secara teratur ataupun hanya makan satu jenis makanan saja.
2. Fase menengah (sedang).
Gambaran utama dari fase ini adalah penurunan fungsi dari berbagai sistem tubuh pada saat yang bersamaan dan membuat ketergantungan pada orang lain yang merawat menjadi meningkat. Gangguan kognitif dan memori makin memberat, kepribadian mulai berubah dan masalah-masalah fisik mulai meningkat. Muncul sikap agresif, halusinasi dan paranoid.
Ciri-cirinya :
a. Gangguan Kognitif dan memori yang signifikan:
• Lupa kisah hidupnya sendiri dan peristiwa yang baru terjadi..
• Mengalami kesulitan untuk mengingat nama dan wajah teman dan keluarga. Tapi masih dapat membedakan wajah yang familiar dengannya dari yang tidak dikenalnya.
• Masih mengingat nama sendiritapi kesulitan untuk mengingat alamat dan nomer telefon..
• Tidak dapat berpikir logik secara jernih. Tidak dapat mengatur pembicaraan mereka sendiri Tidak dapat lagi mengikuti instruksi oral maupun tulisan. Masalah keuangan dan aritmetika semakin meningkat..
• Terputus dari realitas. Tidak mengenal diri sendiri di depan cermin dan dapat menganggap suatu cerita di televisi sebagai suatu kenyataan..
• Disorientasi cuaca, hari dan waktu..
b. Gangguan berkomunikasi :
• Mengalami kesulitan dalam berbicara, memahami, membaca dan menulis.
• Mengulang-ulang cerita, kata-kata, pertanyaan dan bahasa tubuh.
• Masih dapat membaca tapi tidak berespon dengan tepat terhadap materi bacaannya.
• Kesulitan menyelesaikan kalimat
c. Perubahan kepribadian mulai signifikan :
• Apatis, menarik diri, curiga, paranoid (seperti menuduh pasangan berhianat atau anggota keluarga ada yang mencuri).
• Cemas, agitasi dan iritabel, agresif dan mengancam
• Halusinasi dan delusi muncul. Dapat melihat, mendengar, mencium dan mengecap sesuatu yang tidak nyata.
d. Perilaku aneh yang timbul :
• Perilaku seksual yang menyimpang (seperti : menganggap orang lain sebagai pasangannya dan bermasturbasi di depan umum)
• Berbicara sendiri. (hampir sepertiga hingga setengah penderita alzheimer berbicara sendiri)
• Perubahan siklus tidur yang normal ( terjaga sepnajang malam, tidur sepanjang siang)
e. Peningkatan dependensi :
• Dapat makan sendiri, tapi butuh bantuan untuk makan dan minum yang cukup
• Membutuhkan bantuan untuk berpakaian yang sesuai dengan cuaca atau situasi
• Membutuhkan bantuan untuk menyisir rambut, mandi, sikat gigi, dan menggunakan toilet.
• Tidak dapat lagi ditinggalkan sendiri dengan aman (dapat meracuni diri sendiri, membakar diri sendiri).
f. Penurunan kontrol sadar :
• Inkontinensia uri dan feses.
• Tidak merasa nyaman duduk di kursi atau di toilet.
3. Fase Lanjut (berat).
Pada fase ini dapat dijumpai kemunduran kepribadian, gejala kognittif dan fisik memberat. Tingkah laku yang liar di fase awal perkembangan penyakit berubah menjadi lebih tumpul. Beberap ciri khasnya :
a. Kognitif dan memori yang makin memburuk :
• Tidak mengenali lagi orang yang familiar, termasuk istri dan anggota keluarga yang lain.
b. Kemampuan komunikasi benar-benar lenyap :
• Tampak merasa tidak nyaman. Tapi dapat berteriak bila disentuh ataupun bergerak.
• Tidak mampu untuk tersenyum dan berkata-kata, atau berbicara cengan inkoheren.
• Tidak dapat menulis dan memahami material bacaan.
c. Kontrol sadar terhadap tubuh hilang :
• Tidak dapat mengontrol gerakan, otot-otot terasa kaku.
• Inkontinensia urin dan fecal komplit.
• Tidak dapat berjalan, berdiri, sit up, ataipunmengangkat kepala tanpa bantuan orang lain.
• Tidak dapat menelan makanan dengan mudah, sering tersedak .
d. Dependensi komplit terhadap orang lain :
• Membutuhkan bantuan di segala aktivitas hidupnya.
• Membuthkan perawatan sepanjang waktu.
e. Penurunan dearajat kesehatan yang bermakna :
• Sering terjadi infeksi, kejang-kejang, penurunan berat badan, kulit menjadi tipis dan gampang luka serta adanya refleks-refleks abnormal.
f. Tubuh melemah :
• Menolak makan atau minum, berhenti kencing, tidak dapat berespon terhadap lingkungan.
• Hanya dapat merasakan dingin dan rasa tidak nyaman, serta hanya berespon minimal terhadap sentuhan.
• Kelelahan dan tidur yang berlebihan.
• Organ-organ sensoris tidak berfungsi lagi ; bila organ sensoris masih berfungsi, otak tidak mampu menerima input.
g. Perubahan kepribadian :
• Apatis, menarik diri.
• Kepribadian yang tumpul.
h. Perilaku yang aneh :
• Menyentuh sesuatu benda berulang-ulang.


D.    Patofisiologi

Penyakit alzheimer  adalah penyakit yang merusak dan menimbulkan kelumpuhan, yang terutama menyerang orang berusia 65 tahun ke atas. Perkiraan terakhir menyatakan bahwa sekitar 10% orang dalam kelompok usia itu menderita penyakit ini. Penyakit ini cepat meluas dalam kalangan populasi usia lanjut, dan di perkirakan bahwa tahun 2050 akan ada 14 juta penderita penyakit ini. Penyakit ini bukan saja menimbulkan dampak pada sistem pelyanan kesehatan ( kebutuhan akan panti werda, pelayanan kesehatan rawat jalan bagi orang dewasa, fasilitas perawatan akut , dan dana riset), tetapi juga akan menimbulkan sters bagi para anggota keluarga yang harus merawatnya.
Secara patologis, pasien dengan penyakit alzheimer mengalami kehilangan banyak neuron-neuron hipokampus dan korteks tanpa disrtai kehilangan parenkim otak. Selain itu juga dapat kekusutan neurofibrilar yang difus dan di plak  senilis ( makin banyakmplak senilis makin berat gejala gejalnya ). Kedua perubahan patologik terakhir ini bukan merupakan ciri khas dari penyakit alzheimer, karena juga ditemukan pada penderita ensefalopati timah dan sindrom down. Hasil penemuan terakhir menunjukan adanya kaitan dengan kelainan neurotransmiter dan enzim-enzim yang berkaitan dengan metabolisme neurotransmiter tersebut. Tampaknya ada penurunan dari asetitransferase ( enzim yang mensintesis asetilkolin).
Otopsi otak penderita penyakit alzheimr menunjukan pengurangan neurotransmiter asetilkolin yang bermakna : beberapa otak bahkan hanya mengandung 10% dari kadar normal. Beratnya demensia berkaitan langsung dengan penurunan asetikolin pada otak. Penurunannya akan sangat jelas pada korteks serebri,hipokampus dan damigdala. Hal lain yang masih terus diselidiki oleh para penelti adalah neurotransmiter peptida,oleh karena somatostatin menurun pada otak penderita penyakit alzheimer. Faktor tambahan lain yang juga masih dalam penyelidikan adalah neurotoksisitas dari aluminiu. Crapper et al ( 1979) menyatakan bahwa ada kegagalan dalam siste transpor membran pada pasien – pasien penyakit alzheimer, yang memungkinkan interaksi antara aluminium dan kromati yang menyebabkan perubahan patologik dalam sintesis protein dan perubahan neuropibrilar.     

  1. Etiologi dan Factor resiko

           Penyebab dari Alzheimer masih belum diketahui secara pasti, tapi perpaduan berbagai faktor resiko diduga sebagai penyebabnya. Faktor-faktor tersebut antara lain :
- Bertambahnya usia, riwayat keluarga yang positif, dan cedera kepala.
- Toksin dari lingkungan.
- Stres, kecemasan dan sikap pesimis yang berlebihan.
- Genetik :
- Lipoprotein E-epsilon 4 yang rapuh dan gampang mengalami mutasi.
- Protein prekursor amiloid (APP) pada kromosom 21.
- Trisomi kromosom 21 (down’s syndrom). Pasien dengan sindrom down cenderung terkena alzheimer onset dini pada usia di atas 30 tahun.
- Gen presenilin I yang terdapat di kromosom 14. Mutasi pada gen inilah yang berkaitan erat dengan Alzheimer familial.
- Gen presenilin II pada kromosom 1. Mutasi pada gen ini berkaitan erat dengan penyakit Alzheimer yang terjadi pada penduduk di daerah sungai Volga, Rusia.
  1. Pencegahan
 Para ilmuwan berhasil mendeteksi beberapa faktor resiko penyebab Alzheimer, yaitu : usia lebih dari 65 tahun, faktor keturunan, lingkungan yang terkontaminasi dengan logam berat, rokok, pestisida, gelombang elektromagnetic, riwayat trauma kepala yang berat dan penggunaan terapi sulih hormon pada wanita.

Dengan mengetahui faktor resiko di atas dan hasil penelitian yang lain, dianjurkan beberapa cara untuk mencegah penyakit Alzheimer, di antaranya yaitu :
1.    Bergaya hidup sehat, misalnya dengan rutin berolahraga, tidak merokok maupun mengkonsumsi alkohol.
2.    Mengkonsumsi sayur dan buah segar. Hal ini penting karena sayur dan buah segar mengandung antioksidan yang berfungsi untuk mengikat radikal bebas. Radikal bebas ini yang merusak sel-sel tubuh.
3.    Menjaga kebugaran mental (mental fitness). Cara menjaga kebugaran mental adalah dengan tetap aktif membaca dan memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan.
           G. Terapi
 Pendekatan terapi pada penyakit Alzheimer didasarkan pada teori yang berkembang sesuai patogenesis dan patofisiologis penyakit dan kebutuhan untuk memperbaiki gejala-gejala kognitif dan tingkah laku yang mengalami gangguan, meskipun hingga saat ini belum ada terapi yang benar-benar secara meyakinkan mencegah Alzheimer ataupun memperlambat perjalanannya.
Terapi medis untuk Alzheimer meliputi :
 Obat-obatan Psikotropik dan intervensi perilaku
v
 Berbagai intervensi  farmakologis dan perilaku dapat memperbaiki gejala klinik penyakit Alzheimer, seperti : kecemasan, agitasi dan perilaku psikotik, yang memang pendekatan terbaiknya adalah secara simptomatis saja. Obat-obatan ini sangat berguna meski keefektifannya sedang dan bersifat sementara saja dan tidak mampu untuk mencegah perkembangan penyakit dalam jangka waktu yang lama.
            Intervensi perilaku meliputi pendekatan patient centered ataupun melalui pelatihan tenaga yang siap memberikan bantuan perawatan terhadap pasien. Intervensi-intervensi ini dikombinasikan dengan farmakoterapi seperti penggunaan anxiolytic untuk anxietas dan agitasi, neuroleptik untuk keadaan psikotiknya dan anti depressan untuk keadaan depresinya.
 Beberapa obat psikotik yang dianjurkan untuk digunakan oleh banyak praktisi adalah : haloperidol, risperidone, olanzapine dan quetiapine.
Obat-obatan ini diberikan dalam dosis minimal yang masih efektif untuk meminimalisir efek samping, oleh karena sebagian besar pasien adalah mereka yang berusia lanjut.
 Cholinesterase Inhibitors (ChEIs)
§ Strategi yang digunakan secara luas untuk mengatasi gejala-gejala alzheimer adalah mengganti kehilangan neurotransmitter asetilkolin di korteks serebri. Seperti diketahui, pada penyakit Alzheimer terdapat kehilangan yang substansial dari asetilkolin, penurunan jumlah enzim asetiltransferase (enzim untuk biosintetis asetilkolin) dan hilangnya neuron-neuron kolinergik di daerah subkortikal (nukleus basalis dan hippokampus).yang memiliki serabut projeksi ke korteks.
            Observasi ini menghasilkan teori bahwa manifestasi klinis dari alzheimer timbul sebagai akibat dari hilangnya persarafan kolinergik ke korteks serebri. Akibatnya, dikembangkanlah berbagai senyawa yang mampu menggantikan defek kolinergik ini dengan cara mengintervensi proses degradasi asetilkolin oleh asetilkolinesterase sinaptik (spesifik), ataupun oleh asetilkolinesterase non sinaptik (non spesifik) yang sering disebut sebagai butyrylkolinesterase (BuChE).
            Obat-obatan yang dianjurkan diantaranya adalah tacrine (cognex),donepezil (aricept), rivastigmine (exelon) dan galantamine (reminyl). Hanya tacrin dan rivastigminlah yang juga menghambat BuChE. Hal ini penting untuk kemanjuran terapi, sebab dalam perjalanan penyakit Alzheimer, BuChE akan meninggi dan di sintesis oleh berbagai lesi Alzheimer termasuk oleh plak senilis. Efek obat-obatan ini antara lain :
(1) Memperbaiki fungsi kognitif pada fase yang lanjut
 (2) Memperbaiki gangguan perilaku
(3) Menolong pasien dengan demensia akibat gangguan vaskuler yang sering muncul bersamaan dengan Alzheimernya.
 Obat-obatan ini hanya berefek sementara sebab tidak memperbaiki penyebab dasar dari hilangnya asetilkolin di korteks, yakni degenerasi neuron yang tetap berlangsung secara progresif.
 Antagonis
v N-methyl-D-aspartate (NMDA). Merupakan obat generasi baru yang amat berguna pada Alzheimer fase lanjut. Kombinasi dengan asetilkolinesterase inhibitor terbukti lebih manjur. Mamantine adalah contoh obat golongan ini, yang juga dapat digunakan untuk keadaan neurodegeneratif lainnya seperti huntington disease, demensia terkait AIDS dan demensia vaskular.
 Anti radikal bebas. Da
vpat digunakan tocopherol (vitamin E) yang berfungsi memperbaiki kerusakan oksidatif akibat radikal bebas yang memberi kontribusi sebagai penyebab dari Alzheimer.
 Agen anti inflamasi (nonsteroid). Pemberian agen ini berdasarkan
v postulat bahwa berbagai lesi Alzheimer seperti plak senilis, membutuhkan suatu keadaan inflamasi agar dapat berkembang menjadi fase yang lebih berat. Berbagai studi menunjukkan adanya perbaikan dan perlambatan perkembangan Alzheimer setelah pemberian singkat obat anti inflamasi ini. Contoh obat adalah rofecoxib (vioxx) dan naproxen (aleve).
 Antibiotik. Obat ini berguna untuk mengurangi
v deposisi amiloid otak pada pasien Alzheimer.
            Estrogen. Amat berguna pada
v wanita menopause dimana produksi estrogennya mulai menurun. Seperti kita ketahui estrogen merupakan suatu neurotropik dan membantu melindungi otak dari proses-proses degeneratif.
 Aktivitas dan sikap hidup yang sehat. Aktivitas-aktivitas fisik dan mental sangat direkomendasikan pada pasien-pasien Alzheimer dengan memperlambat perkembangan penyakit dan mencegah proses kemunduran lebih lanjut. Pada tahap perkembangan demensia Alzheimer yang dini, sikap hidup yang sehat, baik fisik maupun psikologis mampu memberikan perlindungan dan daya tahan dari otak terhadap lesi yang mulai muncul dengan cara membangkitkan kompensasi dari bagian otak yang masih sehat dan melindunginya dari perkembangan penyakit yang progresif

  1. Prognosis
Angka survival rata-rata setelah munculnya onset awal dari gejala Alzheimer adalah sekitar 8-10 tahun. Faktor-faktor yang membantu progresivitas penyakit adalah adanya gejala ekstrapiramidal, adanya gejala-gejala psikotik, onset pada usia muda dan disfungsi kognitif yang dini.




KONSEP KEPERAWATAN
            ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT ALZHEIMER
Pengkajian
a.    aktivitas/istrahat
Gejala      : Merasa lelah
 Tanda     : Siang/malam gelisah, tidak berdaya, gangguan pola tidur.   Letargi: penurunan minat/perhatian pada aktivitas yang biasa, hoby, ketidak mampuan untuk menyebutkan kembali apa yang dibaca / mengikuti acara program televisi
gangguan keterampilan motorik, ketidakmampuan untuk melakukan hal yang telah biasa di lakukannya,gerakan yang sangat bermanfaat
b.    Sirkulasi
Gejala      : Riwayat penyakit vaskulerserebral, sistemik, hipertensi, episode emboli ( merupakan factor predisposisi )
Tanda      :
c.    Eliminasi
Gejala      :Dorongan berkemih,(dapat mengindekasikan kehilangan tonus otot )
Tanda      : Inkontenensia urine/ feses; cenderung konstipasi / impaksi dengan diare
d.    Integritas ego
Gejala      : Curiga atau takut terhadap situasi / orang khayalan
                 Kesalahan persepsi terhadap lingkungan, kesalahan identifikasi terhadap objek dan orang. Penimbunan objek ; menyakini bahwa objek yans salah penempatannya telah di curi. Kehingan multipel, perubahan citra tubuh dan harga diri yang di rasakan 
Tanda      :Menyembunyikan ketidakmampuan (banyak alas an tidak mampu untuk melakukan kewajiban, mungkin juga tangan memmbuka buku namun tanpa membacanya)
   Duduk dan menonton yang lain
              Aktivitas utama mungkin menumpuk benda tidak bergerak,      gerakan tidak berulang ( melipat, membuka melipat-lipat kembali kain,)menyembunyikan barang-barang , atau berjalan-jalan.
   Emosi labil : mudah menangis, tertawa tidak pada tempatnya;perbahan alam perasaan ( apatis, letargi, gelisah, lapang pandang  sempit, peka rangsang ); marah yang tiba-tiba di ungkapakan. ( reaksi katastrofik): depresi yang kuat , delusi, paranoia lengket pada seseorang.
e.    makanan / cairan
Gejala      : Riwayat episode hipoglikemia ( merupakan factor predisposisi)
               perubahan dalam pengecapan, Nafsu makan, menginkari terhadap rasa lapr/kebutuhan untuk makan.
                 Keilangan berat badan
Tanda      :kehilangan kemampuan untuk mengunyah
                  Menghindari/menolak makan ( mungkin mencoba untuk menyembunyikan keterampilan )
Tampak kurus ( tahap lanjut )

f.  Neurosensori ,
Gejala      : Pengingkaran terhadap gejala yang ada terutama perubahan kognitif,dan/ atau gambar yang kabur, keluhan hipokondrial tentang kelelahan , diare, pusingatau kadang-kadang sakit kepala.adanya keluhan dalam penurunan kemampuan kognitif, mengambil keputusan, mengingat yang baru berlalu, penurunan tingkah laku ( di observasi oleh orang terdekat)
                  Kehilangan sensasi propriosepsi ( posisi tubuh / bagian tubuh dalam ruang tertentu)
   Adanya riwayat penyakit serebral vascular/sistemik, emboli/hipoksia yang berlangsung secara periodic ( sebagi factor predisposisi)
   Aktivitas kejang ( merupakan akibat sekunder pada kerusakan
   Otak 
Tanda      : Kerusakan komunikasi,afasia dan disfasia , kesulitan dalam   menemukan kata-kata yang benar, bertanya berulang-ulang atau percakapan dengan substansi kata yang tidak memiliki arti; terpenggal-penggal atau bicaranya tidak terdengar
                        Kehilangan kemampuan untuk membaca atau menulis bertahap ( kehilangan keterampilan motorik halus ) 

g.    Kenyamanan
Gejala      : Adanya riwayat trauma kepala yang serius ( mungkin menjadi faktor predisposisi / faktor akselerasinya )
Tanda Trauma kecelakaan ( jatuh, luka bakar dan sebagainya )
Tanda      : Ekimosis, laserasi
Rasa bermusuhan / mnyerang orang lain
h.    Interaksi sosial
Gejala   : Merasa kehilangan kekuatan
Faktor psikososial sebelumnay; pengaruh personal dan individu yang muncul mengubah pola tingkah laku  
Tanda   : Kehilangan kontrol sosial, perilaku tidak tetap 

Diagnosa keperawatan
1.    perubahan proses berfikir berhubungan dengan degenerasi neuron iriversibel
2.    perubahan persepsi sensori berhubungan dengan defisit neurologis
3.    kurang perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan fisik
4.    perubahan pola eliminasi urinarius/konstipasi  berhubungan dengan kehilangan fungsi neurologis/ tonus otot
5.    Resti perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mudah lupa
6.    resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan kacau mental
7.    koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan hubungan keluarga sangat ambivalen





INTERVENSI

Dx 1;roses perubahan berfikir berhubungan dengan degenerasi neuron ineversibel
Kriteria hasil :
  • mampu mengenali perubahan dalam berfikir/tingkah laku dan faktor-faktor penyebab jika memungkinkan
  • mampu memperlihatkan penurunan tingkah laku yang tidak di inginkan ancaman dan kebingungan
ntervensi      :
Mandiri

1.    kaji derajat gangguan kognitif, seperti perubahan orientasi terhadap orang, tempat, waktu, rentang perhatian, kemampuan berfikir
R : Memberikan dasar untuk evaluasi / perbandin gan yang akan datang dan menpengaruhi pilihan terhadap intervensi.   
2.    pertahankan lingkungan yang menyenagkan dan tenang
R :  kebisingan,keramaian,orang banyak biasanya merupakan sensori yang berlebihan yang meningkatkan gangguan neuron.
3.    lakukan pendekatan dengan cara perahan dan tenang
R : Pendekatan yang terburu-buru dapat mengancam pasien bingung yang mengalami kesalahan persepsi atau perasaan terancam oleh imajinasi orang dan situasi tertenu.
4.    tatap wajah ketika bercakap-cakap dengan pasien
R : menimbulkan perhatian ,terutama pada orang-orang dengan gangguan perseptual.
5.    panggil pasien dengan namanya
R : Nama merupakan bentuk identitas diri dan menimbulkan pengenalan terhadap realita dan individu. Pasien mungkin merespon pada namanya sendiri setelah lama tidak mengenal orang terdekat.
6.    gunakan suara yang agak rendah dan bebicara dengan perlahan
 pada pasien
R: Meningkatkan kemungkinan pemahaman . ucapan dan suara yang keras menimbulkan sters atau marah yang kemungkinan dapat mencetuskan memori konfrontasi  sebelumnya dan menjadi profokasi dan respon marah.

7.    gunakan kata-kata yang pendek dan kalimat yang sederhana dan berikan instruksi sederhana  ( tahap inap). Ulangi instruksi tersebut sesuai dengan kebutuhan
R : sesuai dengan perkembangannya penyakit,pusat komunikasi dalam otak mungkin saja terganggu yang menghilangkan kemampuan individu pada proses penerimaan pesan dan percakapan secara keseluruhan.
8.     gunakan distraksi
R : Lamunan menbantu dalam meningkatkan disorientasi. Orientasi pada realita meningkatkan perasaan realita pasien, penghargaan diri dan kemuliaan personal ( kebahagiaan personal ).
9.    hindari pasien dari aktivitas dan komunikasi yang di paksakan
R : Keterpaksaan menurunkan keikutsertaan pasien dan mungkin juga dapat meningkatkan ecurigaan,delusi.
10. bantu menemukan atau membentulkan hal-hal yang salah dalam penempatannya. Berikan label gambar-gambar /hal yang dipilih pasien.jangan elawan / mnentang pasien
R : Dapat menurunkan defensif pasien jika pasien mempercayai ia sedang ada dalam tempat yang salah, tersimpan atau tersembunyi. Membantah hal yang keliru dari pasien tidak akan mengubah kepercayaan dan mungkin juga akan menimbulkan kemarahan.

kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi :
1.    Antisiklotik, seperti halopiridol (Haldol),tioridazin (Mallril)
R : Dapat digunakan untuk mengontrol agitasi, halusinasi. Mallarir jarang digunakan karena adanya beberapa efek samping yang bersifat ekstrapiramidal ( mis,distonia,akatisia) meningkatkan kekacauan mental ; masalah penglihatan dan terutama gangguan berdiri dan berjalan.
2.    Vasodilator, seperti siklandelat ( Cyclospasmol)
R : Dapat meningkatkan kesadaran menta tetapi memerlukan penelitian lebih lanjut.
3.    Ergoloid mesila (Hydergine LC )
R : Peningkatan metabolisme ( meningkatkan kemampuan otak untuk melakukan metabolisme glukosa dan menggunakan oksigen ) yang mempunyai beberapa efek samping.
 
Dx 2 :  perubahan persepsi sensori berhubungan dengan defisit neurologis
Kriteria hasil :
  • Mampu mendemonstrasikan respons yang meningkat/sesuai dengan stimulasi
  • Pemberian asuhan akan mampu mengidentifikasi/ mengontrol faktor-faktor eksternal yang berperan terhadap perubahan dalam kemampuan persepsi sensori
Intervensi     :
Mandiri

    1. Kaji derajat sensori atau gangguan persepsi dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi individu yang termasuk di dalamnya adalah penurunan penglihatan / pendengaran.
R : Katena keterlibatan otak biasanya global, yaitu dalampersentase yang kecil mungkin memperlihatkan masalah yang bersifat asimetrik yang menyebabkan pasien kehilangan kemampuan pada salah satu sisi tubuhnya ( gangguan unulateral ).
2. Anjurkan untuk menggunakan kaca mata, alat bantu  pendengaran  sesuai keperluan.
R : Dapat meningkatkan masukan sensori,membatas / menurunkan kesalahan interprestasi stimulasi.


3. Pertahankan hubungan orientasi realita dan lingkungan.
R : Menurunkan kekacauan mental dan meningkatkan koping terhadap prustasi karena salah persepsi dan disorientasi.
4. Berikan lingkungan yang tenang dan tidak kacau jika di perlukan  seperti musik, yang lembut,gambar dinding cat sederhana.
R : Membantu untuk menghindari masukan sensori pengihatan /pendengaran yang berlebihan dengan mengutamakan kualitas yang tenang ,konsisten.
5.  Berikan sentuhan dalam cara perhatian
R : dapat meningkatkan persepsi terhadap diri sendiri
6. Ajak piknik sederhana ,jalan – jalan keliling rumah sakit.pantau aktivitas.
R : Piknik menunjukkan realita dan memberikan stimulasi sensori yang menyenangkan yang dapat menurunkan perasaan curiga / halusinasi yang disebabkan oleh perasaan terkekang.
7. Tingkatkan keseimbangan fungsi fisiologi dengan menggunakan bola lantai,tangan menari dengan disertai musik.
R : Menjaga mobilitas ( yang dapat menurunkan resiko terjadinya atrofi otot /osteoporosis pada tulang ).

Dx 3 : kurang perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan fisik
Kriteria hasil :
  • Mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan diri sendiri
  • Mampu mengidentifikasi dan menggunakan sumber-sumber pribadi / komunitas yang dapat memberikan bantuan
Intervensi     :
Mandiri
1.    identifikasi kesulitan dalam berpakaian /perawatan diri, seperti keterbatasan gerak fisik : apatis / depresi; penurunan kognitif ( apraksia )atau teemperatur ruangan ( dingin untuk mengenakan pakaian ).
R : memahami penyebab yang mempengaruhi pilihan intervensi /strategi. Masalah dapat diminimalkan dengan menyesuaikan pakaian atau munkin memerlukan konsultasi dari ahli lain.
2. identifikasi kebutuhan akan kebersian diri dan berikan bantuan sesuai kebutuhan dengan perawatan ranbut /kuku/kulit. Bersihkan kaca mata dan gosok gigi.
R : sesuai dengan perkembangan penyakit, kebutuhan akan kebersihan dasar mungkin dilupakan.
3. Perhatiakan adanya tanda-tanda non verbal yang fisiologis.
R : kehilangan sensori dan penurunan fungsi bahasa menyebabkan pasien mengunkapkan kebutuhan perawtan diri dengan cara non verbal.
4. Beri banyak waktu untuk melakukan tugas
R : waktu yang cukup dan ketenangan dapat menurunkan kekacauan yang di akibatkan karena mencoba untuk menghindari / mempercepat proses ini.
5. Bantu untuk  mengenakan pakaian yang rapi/berika pakaian yang rapi dan indah.
R : meningkatkan kepercayaan,dapat menurunkan perasaan kehilangan dan meningkatkan kepercayaan untuk hidup.
6. izinkan tidur untuk menggunakan kaus kaki atau sepatu atau pakaian tertentu atau menggunakan dua set pakaian jika pasien membutuhkan.
R:memberikankeamanan,mengubah,mengurangi,memberontakan dan memungkinkan pasien untuk istirahat.

DX 4 :perubahan pola eliminasi urinarius/konstipasi berhubungan dengan kehilangan fungsi neurologis/tonus otot
Kriteria hasil:
  • mampu menciptakan opla eliminasi yang adekuat / sesuai
Intervensi       :
Mandiri
1.    kaji pola sebelumnya dan bandingkan dengan pola yang sekarang.
R:Memberikan informasi mengenai perubahan yang mungkin selanjutnya memerlukan pengkajian/interfensi.
2.    letakan tempat tidur dekat dengan kamar mandi jika memungkinkan; buatkan tanda tertentu/pintu berkode khusus. Berikan cahaya yang cukup terutama malam hari.
R: Meningkatkan orientasi/penemuan kamar mandi. Inkontinesia mungkin disertai ketidak mampuan untuk menemukan tempat berkemih/defekasi.
3.    Berikan kesempatan untuk melakukan toileting dengan interval waktu yang teratur. Biarkan melakukan sendiri satu tahap per satu tahap pada waktu tertentu. Gunakan penguatan positif.
R: Ketaatan pada jadwal harian dan teratur dapat mencega cedera. Sering masalahnya melupakan apa yang akan dilakukan. Seperti melepaskan atau posisi mendorong.
4.    Buat program latihan defekasi / kandung kemih. Tingkatkan partisipasi pasien sesuai tingkat kemampuannya
R ;menstimulasi kesadaran pasien, meningkatkan pengaturan fungsi tubuh dan membantu menghindari kecelakaan 
5.    anjurkan untuk minum adekuat selama siang hari ( paling sedikit 2L sesuai toleransi), diiet tinggi serat dari sari buah. Batasi minum saat menjelang malam dan waktu tidur
R; menurukan resiko konstipasi/ dehidrasi.pembatasan minum sore menjelang pada malam hari dapat menurunkan seringnya berkemih / iinkontenensia selama malam hari
Kolaborasi
1.    berikan obat pelembek feses, metamacil, gliserin supositoria sesuai dengan kondisi
R : mungkin diperlukan untuk memfasilitasi / menstimulasi defekasi yang teratur




DX 5: Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungann dengan Muda lupa
Kriteri hasil :
  • mendata diet nutrisi yang seimbang
  • mempertahankan/ mendatakan kembali berat badan yang sesuai

Intervensi     :
Mandiri
1.    kaji pengetahuan pasien/orang terdekat mengenai kebutuhan akan makanan
R; identifikasi kebutuhan untuk membantu memformulasikan perencanaan pendidikan secara individual
2.    tentukan jumlah latihan/langkah yang pasien lakukan
R; masukan nutrisi mungki  perlu untuk memenuhi kebuutuhan yang mendekati berhubungan dengan kecukupan kalori secara individu
3.    usahakan / berikan bantuan dalam memilih menu
R; pasien mungkin tidak mampu menentukan pilihannya atau tidak menyadari akan kebutuhan untuk mempertahankan elemen dari nutrisi
4.    usahakan untuk memberikan makanan kecil setiap kira-kira satu jam sesuai kebutuhan
R; makanan yang kecil dapat meningkatkan masukan yang sesuai. Pembatasan jmlah makanan yang diupayakan hanya sekalli waktu pemberian akan menurunkan kebingungan pasien mengenai makanan mana yang dipilih
5.    berikan waktu yang leluasa untuk makan
R ; pendekatan yang santai dapat membantu pencernaan makanan dan menurunkan kemungkinan untuk marah yang dietuskan oleh keramaian
6.    berikan stimulasi refleks hisapan mulut dengan menekan dagu secara berhati-hati atau menstimulasi mulut dengan sendok
R: sesuai  berkembangnya penyakit, pasien dapat merapatkan gigi dan menolak untuk makan. Menstimulasi refleks dapat menungkatkan partisipasi / pemasukan makanan 
kolaborasi
1.    rujuk / konsultasi dengan ahli gizi
R : bantuan mungkin diperluakan untuk mengembangkan keseimbangan diet secara individu untuk menemukan kebutuhan pasien / makanan yang disukai

 DX 6: Resti disfungsi seksual berhubungan dengan kacau mental
Kriteria hasil :
  • memenuhi kebutuhan seksualitas dalam cara yang dapat diterima
  • tidak mengalami perilaku yang tidak tepat

intervensi:
mandiri 
    1. kaji kebutuhan /kemampuan pasien secara individual
R; metode alternatif perlu diciptakan pada keadaan tertentu untuk memfasilitasi kebutuhan akan masa intimasi ( keinginan untuk melakukan hubungan seksual ) dan kedekatan
    1. amjurkan pasangan untuk memperlihatkan penerimaan / perhatiannya
R; seseorang denagn gangguan konitif biasanya tidak kehilangan kebutuhan dasarnya pada afektif, rasa cinta, perasaan diterima , dan ekspresi seksual 
    1. berikan jaminan terhadap privasi
R; tingkah laku ekspresi seksual ungkin berbeda
    1. gunakan distraksi sesuai dengan kebutuhan, ingatkan pasien bahwa ni merupakan tempat umum( tempat masyarakat banyak ) dan tingkahlak yang dilakukan saat ini tidak dapat diterima
R; merupakan suatu alat yang paling bemanfaat ketiak ada tingkah laku yang tidak sesuai, seperti membuka pakaian ( telanjang)
    1. berikan waktu yang cukup untuk menjelaskan / mendiskusikan perhatian dari orang terdekat
R: mungkin memerlukan informasi / konseling mengenai alternatif tertentu dalam melakukan  aktivitas/agresi seksual


DX 7 : koping keluarga tidak efekif berhubungan dengan hubungan keluarga sangat embivalen
Kriteria hasil :
  • mampu mengidenifikasi/mengungkapkan dalam diri merasa sendiri untuk mengatasi keadaan
  • mamapu meneriama kondisi oranng yang dicintai dan mendemonstrasikan tingkah laku koping yang positif dalam mengatasi keadaan
  • menggunakan sistem penyokong yang ada secara efektif
intervensi     :
mandiri
    1. libatkan semua orang terdekat dalam pendidikan dan perencanaan perawatan pasien dirumah
R:dapat memudahkan beban terhadap penanganan dan adaptasi dirumah
    1. buat prioritas
R: membantu untuk membuat suatu pesan tertentu dan memfasilitasi pemecahan masalah yang ada
    1. realistis dan tulus dalam mengatasi semua permasalahan yang ada
R: menurukan stres yang menyellimuti harapan yang keliru, seperti individu tersebut dapat menemukan kembali tingkat kemampuan pada masa lalu setelah penggunaan obat tertentu
    1. bantu keluarga untuk memenuhi pentingnya mempertahankan fungsi psikososial
R: tingkah laku yang terhalang, tuntutan perawatan tinggi dan seterusnya dapat menimbulkan keluarga akan menarik diri dari pergaulan
    1. diskusikan kemungkinan adanya isolasi, berikan penguatan kebutuhan terhadap sistem dukungan
R: kepercayaan bahwa individu dapat menemukan semua kebutuhan pasien meningkatkan resiko penyakit fisik/mental
    1. berikan umpan balik yang positif terhadap setiap isaha yang dilakukannya
R: memnberi keyakinan pada individu bahwa mereka sedang melakukannya dengan cara yang terbaik
    1. anjurkan untuk tidak membatasi pengunjung
R: kontak dengan bentk kekeluargaan merupakan dasar dari realitas dan dapat memberikan satu jaminan kebebasan dari kesepian   
Kolaborasi:
1.    rujuk pada sumber-sumber penyokong setempat seperti: perawatan lansia pada siang hari, pelayanan dirumah, berhubungan denagan asosiasi penyakit Alzheimer( bila ada )
R: koping dengan individu seperti ini adalah tugas purna waktu dan membuat frustasi. Memberikan tanggung jawab pada tempat perawatan siang hari mungkin mengurangi kejenuhan , menurunkan risiko terjadinya isolasi sosial dan mencegah kemarahan keluarga, perkumpulan penyakit Alzheimer memberikan kelompok dukungan pendidikan keluarga dan meningkatkan penelitian













DAFTAR PUSTAKA



Doenges. E. Marylin Dkk, 2008. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN. Edisi 3, EGC : Jakarta

Price. A. Sylvia,Lorraine. M. Wilsion,2006.PATOFISIOLOGI konsep klinis proses-proses penyakit Edisi 6 volume 2. EGC: Jakarta

Price. A. Sylvia,Lorraine. M. Wilsion,2006.PATOFISIOLOGI konsep klinis proses-proses penyakit Edisi 4 buku 2. EGC : Jakarta

Suddarth dan brunne, 2000. BUKU AJAR KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH Edisi 8 volume 3, EGC : Jakarta

www. Google. Com












Tugas kelompok    : keperawatan Medikal Bedah II
Dosen pembimbing :  Dewi Sartiya Rini, S.Kep,Ns



ASUHAN KEPERAWATAN
ALZHEIMER
                                                                                     
OLEH ;
KELOMPOK IV
MOHAMMAD MARFIANSAH
NUTHIFMAWATI ARIEF
NAOMI PAGORAI
MEY SANTI
MARIANI


PROGRAM KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MANDALA WALUYA
KENDARI
2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar